RADAR SURABAYA – Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jawa Timur (Jatim), Dudung Rudi Hendratna, memaparkan perkembangan ekonomi dan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) regional Jatim hingga November 2025. Secara umum, perekonomian Jatim menunjukkan kinerja yang solid dengan inflasi terkendali serta realisasi APBN yang tetap kuat.
Dudung menjelaskan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur pada triwulan III 2025 tercatat mencapai Rp 867,39 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB). Capaian tersebut setara dengan 14,54 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang mencapai Rp 6.060,0 triliun.
“Besarnya kontribusi ini menegaskan posisi strategis Jawa Timur sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional,” ujarnya, Selasa (23/12).
Dari sisi harga, inflasi Jawa Timur pada November 2025 tetap terkendali. Inflasi tercatat sebesar 2,63 persen secara tahunan (year on year/y-o-y), 0,17 persen secara bulanan (month to month/m-t-m), dan 2,16 persen secara tahun berjalan (year to date/y-t-d). Inflasi bulanan terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,30 persen.
Menurut Dudung, inflasi yang relatif terkendali ini didukung oleh ketersediaan bahan pangan utama, seperti beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Sementara itu, kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur pada Oktober 2025 menunjukkan adanya tekanan. Nilai ekspor tercatat sebesar 2,43 miliar dolar AS, turun signifikan sebesar 26,98 persen dibandingkan September 2025 (m-t-m). Sebaliknya, nilai impor mencapai 2,66 miliar dolar AS atau naik 9,94 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Kondisi ini menyebabkan neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit sebesar 0,23 miliar dolar AS,” jelasnya.
Penurunan ekspor dipengaruhi oleh kontraksi pada sektor migas maupun nonmigas. Adapun kenaikan impor didorong oleh meningkatnya permintaan barang modal, seperti mesin dan peralatan mekanis, seiring aktivitas investasi dan produksi.
Dari sisi fiskal, realisasi pendapatan negara di Jawa Timur hingga November 2025 mencapai Rp 223,58 triliun atau 78,53 persen dari target APBN sebesar Rp 284,72 triliun. Penerimaan tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan yang terealisasi Rp 215,64 triliun atau 77,22 persen dari target, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang melampaui target dengan capaian 144,98 persen atau Rp 7,95 triliun.
Penerimaan perpajakan terdiri dari penerimaan pajak yang dikelola Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebesar Rp 93,94 triliun atau 73,12 persen dari target, serta penerimaan kepabeanan dan cukai oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebesar Rp 121,69 triliun atau 80,72 persen dari target.
Hingga 30 November 2025, penerimaan pajak di Jawa Timur didominasi oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM yang berkontribusi 60,02 persen, serta Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas sebesar 37,17 persen. Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan penerimaan pajak mencapai Rp 53,67 triliun atau sekitar 57,1 persen.
Di sisi lain, penerimaan kepabeanan dan cukai tumbuh 1,89 persen secara tahunan (y-o-y). Bea masuk tercatat Rp 5,38 triliun atau 88,39 persen dari target, meski terkontraksi 10,94 persen akibat penurunan impor komoditas pangan dan meningkatnya pemanfaatan fasilitas Free Trade Agreement (FTA). Bea keluar justru melonjak signifikan hingga Rp565 miliar atau 578 persen dari target, didorong kenaikan harga dan volume ekspor crude palm oil (CPO). Sementara itu, penerimaan cukai mencapai Rp 115,7 triliun atau 80,06 persen dari target APBN, tumbuh 2,20 persen secara tahunan.
Untuk belanja negara, realisasi APBN di Jawa Timur hingga November 2025 mencapai Rp 114,14 triliun atau 89,31 persen dari pagu. Belanja tersebut terdiri dari belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 36,63 triliun dan transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp 77,51 triliun.
“APBN terus berperan sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi, mendukung pertumbuhan, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” pungkas Dudung. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto