Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kasus HIV/AIDS Turun Tipis, DPRD Jatim Dorong Skrining Massal Ibu Hamil dan Kelompok Rentan

Mus Purmadani • Rabu, 17 Desember 2025 | 01:03 WIB
PEMERIKSAAN: Anggota Komisi E DPRD Jatim Puguh mengungkapkan, kasus HIV/AIDS hanya turun sedikit di Jatim.(IST/RADAR SURABAYA)
PEMERIKSAAN: Anggota Komisi E DPRD Jatim Puguh mengungkapkan, kasus HIV/AIDS hanya turun sedikit di Jatim.(IST/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur (Jatim), Puguh Pamungkas, mengapresiasi capaian Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur terkait penurunan angka kasus HIV/AIDS. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penurunan tersebut masih tergolong sangat tipis. 

“Penurunan memang patut diapresiasi, meskipun turunnya hanya sedikit dibanding tahun sebelumnya. Tapi yang lebih penting, jangan hanya fokus pada turunnya angka. Faktanya, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Jawa Timur masih cukup tinggi berdasarkan data Kementerian Kesehatan,” ujar Puguh, Selasa (16/12).

Menurut Politisi PKS ini, kondisi tersebut menuntut langkah-langkah progresif dan serius dari Dinas Kesehatan Jawa Timur bersama seluruh jajarannya untuk menekan dan mengeliminasi penularan HIV/AIDS, terutama pada kelompok rentan, termasuk anak-anak.

Puguh menyoroti masih ditemukannya kasus HIV pada anak yang sebagian besar ditularkan dari orang tua, khususnya ibu yang telah terdiagnosis HIV/AIDS. Hal ini, kata dia, seharusnya bisa dicegah melalui skrining dan pencegahan sejak dini.

“Salah satu jalur penularan pada anak berasal dari orang tua. Karena itu, skrining sejak awal, terutama pada ibu hamil melalui pemeriksaan antenatal care (ANC), harus benar-benar dimaksimalkan,” tegasnya.

Ia mendorong agar pemeriksaan HIV pada ibu hamil dilakukan secara masif melalui Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan kader kesehatan desa, sehingga data yang dihimpun benar-benar akurat dan menjadi dasar pengambilan kebijakan.

“Kalau ibu hamil sudah terdeteksi HIV, harus segera diberikan terapi dan pengobatan khusus agar risiko penularan ke anak bisa ditekan,” tambahnya.

Puguh menilai, penanganan HIV/AIDS tidak bisa hanya dibebankan pada Dinas Kesehatan. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor hingga ke level paling bawah.

“Kolaborasi dengan jaringan internal Dinkes sampai tingkat desa sangat penting. Mulai dari Ponkesdes, Pustu, Puskesmas, kader kesehatan desa, hingga klinik dan rumah sakit swasta harus dilibatkan,” katanya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah kabupaten/kota, mengingat sebaran HIV AIDS di Jawa Timur cenderung dominan di wilayah perkotaan.

“Kalau kita lihat, Surabaya, Jember, Kota Malang, Sidoarjo, dan kota-kota besar lainnya memiliki tingkat kerawanan tinggi. Di sana ada kampus, mahasiswa, dan mobilitas manusia yang sangat masif,” jelasnya.

Terkait anggapan bahwa penutupan lokalisasi prostitusi justru membuat penularan HIV/AIDS tidak terkontrol, Puguh menilai persoalan tersebut tidak bisa disederhanakan.

“Prostitusi itu perkara lain. Bisa dikontrol atau tidak, penularan HIV tetap bisa terjadi lewat berbagai pintu akses. Kuncinya ada pada penyadaran yang komprehensif dan berkelanjutan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia mendorong Pemprov Jatim bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan rutin, termasuk mencegah praktik prostitusi terselubung di kos-kosan, kontrakan, hingga hotel. Di sisi lain, peran kampus dan sekolah juga dinilai krusial dalam memberikan edukasi dan penyadaran kepada generasi muda.

“Penyakit ini tidak akan selesai hanya dengan membuka atau menutup lokalisasi. Yang dibutuhkan adalah edukasi, pencegahan, pengawasan, dan penanganan medis yang terintegrasi,” pungkasnya.

Data Jumlah Terjangkit HIV/AIDS di Jatim 

Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menunjukkan tren penurunan penemuan kasus HIV dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, tercatat sebanyak 10.671 kasus HIV. Jumlah tersebut menurun menjadi 10.556 kasus pada 2024. Sementara itu, hingga Oktober 2025, penemuan kasus HIV baru kembali turun signifikan menjadi 8.962 kasus.

Untuk periode Januari hingga Oktober 2025, penemuan kasus HIV di Kota Surabaya tercatat sebanyak 983 kasus. Secara distribusi di Jawa Timur, kasus HIV terbanyak ditemukan di Kota Surabaya (983 kasus), Kabupaten Jember (632), Kabupaten Sidoarjo (549), Kabupaten Pasuruan (418), Kabupaten Malang (415), Kota Malang (410), Kabupaten Lumajang (401), Kabupaten Banyuwangi (385), Kabupaten Nganjuk (294), dan Kabupaten Probolinggo (289). Sementara itu, 28 kabupaten/kota lainnya mencatat total 4.186 kasus.

Berdasarkan jenis kelamin, kasus HIV-AIDS di Jawa Timur masih didominasi oleh laki-laki sebesar 65 persen, sedangkan perempuan 35 persen. Dari sisi kelompok usia, data tahun 2024 mencatat kasus HIV positif pada remaja usia 15–19 tahun sebanyak 333 kasus, dengan rincian 274 kasus pada laki-laki dan 59 kasus pada perempuan. Hingga Oktober 2025, jumlah tersebut menurun menjadi 255 kasus, terdiri dari 196 kasus pada laki-laki dan 59 kasus pada perempuan.

Sementara itu, kasus HIV pada anak umumnya terjadi akibat penularan dari ibu yang positif HIV dan tidak menjalani pengobatan. Hingga Oktober 2025, ditemukan 75 kasus HIV pada anak atau sekitar 1,05 persen dari total ODHIV di Jawa Timur. (mus/gun)

Editor : Guntur Irianto
#pemprov #Berita Jawa Timur terbaru #Berita Jawa Timur #kasus #hari ini #jumlah #hiv/adis #ibu #Dinas Kesehatan (Dinkes) #dprd #Data #penularan #hamil #dprd jatim #dinkes jatim #hiv #aids #Komisi E