RADAR SURABAYA – Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak menanggapi fenomena kendaraan yang mbrebet atau tersendat-sendat setelah mengisi bahan bakar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Ada 17 posko pengaduan disiapkan Pertamina.
Menurut Emil, Pemprov Jatim telah berkoordinasi langsung dengan Pertamina untuk memastikan penyebab pasti dari keluhan masyarakat tersebut.
Emil menjelaskan, laporan mengenai gangguan mesin kendaraan usai pengisian BBM mulai ramai sejak awal pekan ini. “Jadi kami langsung menghubungi pihak Pertamina, tepatnya hari Selasa malam sekitar pukul 21.48. Pihak Pertamina menyampaikan bahwa memang ada keluhan di beberapa kota dan kabupaten, yaitu bau bahan bakar yang menyengat dan kendaraan yang mbrebet,” ujarnya, Kamis (30/10).
Menindaklanjuti hal itu, lanjut Emil, Pertamina melakukan pengambilan sampel bahan bakar tidak hanya di SPBU, tetapi juga di fuel terminal untuk dilakukan uji laboratorium. “Jadi bukan hanya di SPBU, tapi di terminal bahan bakar juga. Hasil pengecekan sementara menunjukkan bahwa kualitas BBM masih dalam standar. Termasuk uji visual, densitas, dan kandungan air juga dilakukan,” jelasnya.
Meski demikian, Emil mengaku masih menunggu hasil laboratorium secara lebih spesifik. “Sekilas saya baca berita, katanya tidak ada kandungan air. Lalu apa sebabnya? Nah, itu yang masih kita tunggu hasil akhirnya,” katanya.
Sebagai langkah cepat, Pertamina membuka 17 posko helpdesk di sejumlah SPBU untuk menerima keluhan konsumen. Khusus di Kota Surabaya, dibuka empat titik posko, yakni di SPBU Jalan Arif Rahman Hakim, Jalan Kayun, Jalan Wonorejo, dan Jalan Kebonsari Tengah.
“Saya sempat bertanya, di Jatim sudah buka posko, tapi di Surabaya kok belum? Ternyata memang direncanakan empat titik dan sudah mulai beroperasi sejak Rabu pagi kemarin,” ungkap Emil.
Ia menekankan agar posko pengaduan tidak hanya berfungsi mencatat keluhan, tetapi juga melakukan tindak lanjut konkret terhadap setiap laporan masyarakat. “Kalau hanya dicatat, buat apa orang datang ke situ. Jadi harus ada tindakan nyata,” tegasnya.
Emil pun mengapresiasi langkah cepat Pertamina yang langsung bergerak di malam hari untuk membuka posko dan mengawal proses uji laboratorium. “Saya sebagai warga Jawa Timur tentu berterima kasih karena pimpinan Pertamina langsung tanggap dan tidak menunggu pagi hari untuk bertindak,” katanya.
Terkait kemungkinan kompensasi bagi masyarakat yang dirugikan, Emil mengatakan hal itu masih akan dibahas setelah hasil investigasi resmi keluar. “Langkah pertama kita pahami dulu masalahnya. Setelah itu baru Pertamina tentu punya mekanisme dan langkah-langkah untuk menjaga kemaslahatan masyarakat,” pungkasnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto