RADAR SURABAYA - Setiap tanggal 12 Oktober, masyarakat Jawa Timur memperingati Hari Jadi Provinsi mereka dengan semarak budaya, refleksi sejarah, dan semangat pembangunan.
Namun, di balik perayaan tahunan ini, tersimpan sejarah panjang yang menandai lahirnya pemerintahan resmi Jawa Timur pasca kemerdekaan Indonesia.
Penetapan tanggal ini bukan sekadar simbol administratif, melainkan hasil kajian historis dan keputusan politik yang memperkuat identitas daerah.
Sejarah Penetapan Hari Jadi Jawa Timur
Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2007.
Tanggal 12 Oktober 1945 dipilih sebagai hari bersejarah karena pada hari itu, Gubernur pertama Jawa Timur, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, secara resmi mulai menjalankan roda pemerintahan di wilayah Jawa Timur.
Penetapan ini dilakukan setelah melalui kajian mendalam oleh sejarawan, akademisi, dan pemerintah daerah.
Sebelumnya, terdapat beberapa usulan tanggal alternatif, seperti 19 Agustus 1945 yang bertepatan dengan pengumuman struktur pemerintahan Indonesia oleh Presiden Soekarno.
Namun, tanggal 12 Oktober dinilai lebih tepat karena mencerminkan dimulainya fungsi pemerintahan daerah secara nyata dan mandiri di Jawa Timur.
R.M. Soerjo, tokoh penting dalam sejarah Jawa Timur, dikenal sebagai pemimpin yang berani dan visioner. Ia memainkan peran sentral dalam konsolidasi pemerintahan daerah, menjaga stabilitas politik, dan memimpin perlawanan terhadap agresi militer Belanda.
Sayangnya, beliau gugur dalam peristiwa tragis saat konvoi di Ngawi pada tahun 1948, dan kini dikenang sebagai Pahlawan Nasional.
Surabaya sebagai ibu kota provinsi memiliki peran penting dalam sejarah Hari Jadi Jawa Timur. Kota ini menjadi pusat administrasi, ekonomi, dan perlawanan rakyat terhadap penjajahan.
Di masa revolusi fisik, Surabaya menjadi medan pertempuran besar dalam mempertahankan kemerdekaan, termasuk dalam peristiwa 10 November yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Jawa Timur juga dikenal sebagai wilayah yang kaya akan budaya, sumber daya alam, dan potensi ekonomi.
Dengan 38 kabupaten/kota, provinsi ini menjadi salah satu motor penggerak pembangunan nasional. Hari Jadi Jawa Timur menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antarwilayah dan mendorong pertumbuhan inklusif.
Filosofi dan Makna Hari Jadi Jawa Timur
Setiap tahun, peringatan Hari Jadi Jawa Timur mengusung tema yang mencerminkan semangat zaman.
Pada tahun 2025, tema “Jatim Tangguh Terus Bertumbuh” dipilih untuk menggambarkan ketahanan masyarakat Jawa Timur dalam menghadapi tantangan global, termasuk pemulihan pasca pandemi dan transformasi digital.
Logo peringatan ke-80 tahun ini menampilkan angka 80 yang dibentuk dari pita dinamis, dihiasi ikon khas Jawa Timur seperti Reog Ponorogo, Gunung Bromo, Gedung Grahadi, dan Wingko Babat.
Simbol-simbol ini merepresentasikan kekayaan budaya, alam, dan semangat kolaboratif masyarakat Jawa Timur.
Peringatan Hari Jadi juga diisi dengan berbagai kegiatan seperti kirab budaya, pameran UMKM, penghargaan tokoh daerah, dan peluncuran program strategis.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjadikan momen ini sebagai titik evaluasi dan peluncuran kebijakan baru yang berdampak langsung pada masyarakat.
Hari Jadi Provinsi Jawa Timur yang diperingati setiap 12 Oktober bukan hanya penanda administratif, tetapi juga simbol perjuangan, konsolidasi pemerintahan, dan semangat pembangunan.
Dengan akar sejarah yang kuat dan filosofi yang mendalam, Jawa Timur terus meneguhkan perannya sebagai provinsi strategis yang berkontribusi besar bagi kemajuan Indonesia. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari