Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Harmoni dalam Perbedaan di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan

Mus Purmadani • Kamis, 2 Oktober 2025 | 13:51 WIB
JALAN MASUK: Gapura Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan yang tertulis Desa Pancasila.
JALAN MASUK: Gapura Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan yang tertulis Desa Pancasila.

RADAR SURABAYA - Di Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, berdiri sebuah desa tua bernama Balun.

Desa seluas 621,103 hektare ini tidak hanya menyimpan kisah sejarah panjang tentang penyebaran Islam oleh para santri murid Wali Songo, tetapi juga menjadi bagian penting dari jejak sejarah hari jadi Kota Lamongan.

Nama Balun dipercaya berasal dari seorang tokoh besar, Mbah Alun, yang berperan besar dalam pembentukan desa sejak abad ke-17.

Sebagian besar area di Desa Balun berupa lahan tambak dan sawah, mencapai 530,603 hektare atau sekitar 79 persen dari total luas wilayah. Tak heran bila mayoritas warganya menggantungkan hidup dari pertanian dan perikanan.

Pura Sweta Maha Suci
Pura Sweta Maha Suci

Berbagai tanaman pokok tumbuh subur di tanah Balun, menopang kebutuhan hidup warga sehari-hari. Selain bertani, sebagian warga juga mengelola tambak-tambak ikan bandeng.

Hasil panen bandeng dari tambak-tambak ini kemudian dipasarkan hingga ke berbagai daerah yang turut memperkuat perekonomian masyarakat desa ini.

Namun, bukan hanya tanah subur dan sejarah panjang yang membuat Balun istimewa. Desa ini lebih dikenal luas sebagai Desa Pancasila yakni sebuah julukan yang lahir dari kehidupan warganya yang sarat dengan kerukunan lintas agama.

Dari total 4.721 jiwa penduduk, mayoritas memeluk Islam yakni 3.748 jiwa, disusul Kristen 692 jiwa, dan Hindu 281 jiwa.

Suasana jelang Maghrib di Masjid Miftahul Huda Desa Balun.
Suasana jelang Maghrib di Masjid Miftahul Huda Desa Balun.

Yang menarik, ketiga agama ini hidup berdampingan. Di desa ini, berdiri masjid, gereja, dan pura yang saling berdekatan. Kehadiran rumah ibadah yang berdampingan itu seolah menjadi simbol nyata toleransi di Desa Balun.

Baca Juga: Khofifah Ajak OJK Perkuat Literasi Keuangan Desa, Cegah Pinjol Ilegal di Jatim

Umat Islam sebagai mayoritas tetap memberi ruang leluasa bagi pemeluk agama lain untuk beribadah. Ketika umat Kristen menggelar kebaktian Minggu atau perayaan Natal, masyarakat sekitarturut membantu kelancaran acara.

Begitu pula saat umat Hindu mengadakan pawai ogoh-ogoh atau Hari Raya Nyepi, warga Muslim dan Kristen ikut serta menjaga ketertiban dan mendukung jalannya kegiatan.

Makam Mbah Alun yang ramai dikunjungi setiap Jumat Kliwon.
Makam Mbah Alun yang ramai dikunjungi setiap Jumat Kliwon.

Kehidupan sehari-hari warga Desa Balun mencerminkan nilai kebersamaan. Anak-anak tumbuh dan bermain dengan siapa saja, tak peduli berbeda keyakinan.

Orang tua mereka pun terbiasa gotong royong, ronda malam, nongkrong di warung, atau sekadar ngobrol ringan bersama. Semua aktivitas sosial dilakukan tanpa rasa curiga atau takut menyinggung perbedaan.

“Bagi masyarakat Balun, keberagaman bukan hal yang perlu dipermasalahkan. Nilai-nilai toleransi mengakar dalam kehidupan sosial dan keagamaan warganya, sehingga perbedaan tak pernah menjadi jurang, melainkan jembatan yang mempererat persaudaraan. Mungkin inilah yang membuat Desa Balun dijuluki Desa Pancasila,” ujar Sekretaris Desa Balun, Hafidh Sa’adillah, Rabu (1/10).

Fenomena unik lainnya, dalam satu keluarga di Balun sering kali terdapat anggota dengan keyakinan berbeda. Namun perbedaan itu dianggap wajar dan justru memperkuat nilai kekeluargaan.

Kehidupan masyarakat Balun sebelum masuknya agama Kristen dan Hindu (1966–1977) didominasi oleh Islam dengan pengaruh kepercayaan Kejawen.

Ajaran Islam di Balun erat kaitannya dengan sosok Mbah Alun, tokoh yang diyakini sebagai ulama dan penyebar Islam di desa sejak abad ke-17. Namun, situasi berubah drastis ketika organisasi PKI berkembang pesat di Balun.

Peristiwa 1965 menjadi masa kelam bagi Desa Balun, banyak warga hilang. Situasi mencekam ini memaksa banyak warga hidup dalam ketakutan.

Kehadiran seorang anggota TNI bernama Bathi yang kembali ke desanya, menjadi titik balik. Ia terpilih sebagai kepala desa pada 1966 untuk mengisi kekosongan pemerintahan dan kemudian memelopori terwujudnya kerukunan antarumat beragama di Balun.

Pasca peristiwa G30S/PKI, pemerintah Orde Baru melarang ateisme dan mewajibkan setiap warga memeluk salah satu dari lima agama resmi.

Di Balun, hal ini mendorong banyak penganut Kejawen untuk beralih ke agama formal. Dari sinilah awal mula Islam, Kristen, dan Hindu berkembang bersama.

Agama Islam, sudah ada sejak masa Walisongo, diperkuat oleh peran Mbah Alun. Pasca 1965, pembangunan masjid besar Miftahul Huda menjadi pusat kehidupan religius umat Muslim.

Kemudian agama Kristen masuk lewat pengaruh Kepala Desa Balun (Bathi) pada 1967, diawali baptisan puluhan warga hingga ratusan. Gereja pertama dibangun secara gotong royong, berkembang hingga berdiri megah hingga saat ini.

Dilanjutkan agama Hindu yang masuk pada 1967, ketika sebagian penganut Kejawen memilih Hindu karena dianggap mirip dengan tradisi lama mereka. Umat Hindu di Balun akhirnya memiliki pura permanen bernama Pura Sweta Maha Suci yang diresmikan pada 1996.

Meski di masa awal sempat muncul ketegangan akibat gelombang perpindahan agama pasca 1965, konflik terbuka tak pernah benar-benar terjadi di Balun.

Ikatan kekeluargaan yang kuat menjadi penyangga utama, ditambah peran tokoh agama dan pemerintah desa yang aktif menjaga toleransi. Pada 17 Juni 1998, seluruh tokoh agama dan masyarakat Balun membuat kesepakatan untuk menjaga dan mengembangkan toleransi lintas iman.

Langkah ini diperkuat dengan program-program pemerintah, seperti penerapan P4, yang menanamkan nilai-nilai Pancasila.

Asal-usul nama Desa Balun

Nama Balun diyakini berasal dari tokoh besar bernama Mbah Alun atau Sunan Tawang Alun I, yang hidup pada abad ke-16 hingga 17. Sosoknya bukan orang sembarangan, Sunan Tawang Alun I dikenal juga sebagai Raja Blambangan bernama Bedande Sakte Bhreau Arih atau Sin Arih, lahir di Lumajang pada tahun 1574.

Sebelum masuk Islam, Sunan Tawang Alun I dikenal sebagai penganut Hindu. Namun perjalanan spiritualnya membawanya belajar mengaji langsung kepada Sunan Giri IV (Sunan Prapen). Sejak itu, Tawang Alun I tidak hanya menjadi seorang raja, tetapi juga ulama penyebar Islam yang berpengaruh.

 Masa pemerintahannya di Blambangan (1633–1639) diwarnai serangan dari Mataram dan Belanda. Kedaton Blambangan hancur, memaksa Sunan Tawang Alun melarikan diri ke barat.

Bersama keluarga, Sunan Tawang Alun Imenuju wilayah pesisir utara Jawa Timur dan akhirnya menetap di sebuah desa kuno bernama Candipari.

Di tempat inilah, Sunan Tawang Alun I menyiarkan ajaran Islam sejak tahun 1600-an. Konon, Sunan Tawang Alun I mendapat perlindungan dari anaknya, Ki Lanang Dhangiran ayau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Brondong.

Seiring berjalannya waktu, Desa Candipari berubah nama menjadi Desa Balun, mengambil nama dari sosok ulama yang kemudian wafat pada tahun 1654 dalam usia 80 tahun.

Kisah lain juga menyebutkan bahwa Raden Alun (sebutan lain Mbah Alun) datang dari arah Bonorowo menaiki perahu yang disapu ombak (alun). Dari situlah kata Balun muncul.

Pada masa itu, wilayah Turi, Karanggeneng, dan Karangbinangun masih berupa rawa-rawa dengan permukaan tanah lebih rendah dari laut. Pelayaran sungai menjadi nadi ekonomi rakyat, sehingga kisah perjalanan Mbah Alun dengan perahu sungguh masuk akal secara historis.

Makam Mbah Alun Ramai Diziarahi pada Hari Jumat Kliwon

Makam Mbah Alun hingga kini tetap ramai dikunjungi para peziarah. Menurut penuturan juru kunci makam, Nur Salim, suasana makam biasanya semakin ramai menjelang sore hingga malam Jumat Kliwon. “Biasanya pada musim panen padi,” ujarnya.

Nur Salim juga menceritakan sebuah kisah dari salah satu peziarah yang pernah mengalami gagal panen karena tidak sempat berziarah pada malam Jumat Kliwon. “Pernah ada satu orang bercerita, hendak tanam namun lupa saat Jumat Kliwon tak datang, dirinya gagal panen. Namun kini setiap Jumat Kliwon datang terus hasil panen sukses,” kata Nur Salim. (mus/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#lamongan #desa #Jawa Timur #balun #masjid #pura #kecamatan