RADAR SURABAYA - Proses pencarian dan evakuasi korban tertimbun reruntuhan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, masih berlangsung hingga Selasa pagi (30/9).
Musala tiga lantai yang ambruk saat proses pengecoran lantai atas pada Senin sore (29/9) menyebabkan puluhan santri dan pekerja bangunan terjebak di bawah puing.
Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan terus berjibaku menyisir puing-puing bangunan dengan bantuan alat berat. Evakuasi dilakukan secara hati-hati karena struktur bangunan yang tersisa masih rawan runtuh.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit menuturkan, hingga Selasa siang, dari total korban yang terdampak peristiwa ini mencapai sekitar 140 santri, 102 santri sudah berhasil dievakuasi beserta yang meninggal dunia. Korban yang luka-luka dirawat di RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Rumah Sakit Delta Surya, dan RSI Siti Hajar.
Nanang merinci, dari 102 santri yang sudah dievakuasi, sebanyak 91 orang berhasil keluar sendiri sesaat setelah mushala ambruk. Sementara 11 lainnya dievakuasi tim SAR gabungan sejak Senin (29/9) petang. Dari jumlah itu, satu santri meninggal dunia setelah sempat dibawa ke Rumah Sakit Islam Siti Hajar Sidoarjo.
Kronologi dan Keterangan Pihak Ponpes
Pengasuh Ponpes Al Khoziny, R Abdus Salam Mujib, menyampaikan duka mendalam atas musibah tersebut.
Ia menjelaskan bahwa musala yang roboh itu sedang dalam tahap akhir pembangunan dan pengecoran lantai tiga merupakan proses finishing.
“Ini pengecoran terakhir saja, tapi jebol. Pembangunan sudah sekitar 10 bulan. Seharusnya selesai saat Dhuhur, tapi molor hingga sore. Penopang cor sepertinya tidak kuat sehingga menekan ke bawah,” ujar Mujib.
Ia juga menyebut belum mengetahui jumlah pasti santri yang berada di dalam musala saat kejadian. “Lantai satu dipakai salat, lantai atas belum digunakan secara resmi, hanya untuk pertemuan,” tambahnya.
Imbauan dan Penanganan Lanjutan
Ketua PCNU Sidoarjo, Zaenal Abidin, yang turut mendampingi di lokasi, meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh kabar simpang siur.
“Mari kita arif dan tunggu informasi valid dari pihak Ponpes agar tidak menambah keruh suasana,” tegasnya.
Sejak malam hingga pagi, puluhan ambulans hilir-mudik membawa korban ke rumah sakit rujukan. Suasana di sekitar lokasi masih dipenuhi tangis keluarga santri dan warga yang menanti kabar dari tim penyelamat.
Penyebab pasti ambruknya bangunan berusia 10 bulan itu kini tengah dalam penyelidikan Tim Inafis Polda Jawa Timur.
Sementara itu, proses evakuasi dijadwalkan berlangsung tanpa henti hingga seluruh korban ditemukan.
Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Timur juga menyampaikan duka cita mendalam atas musibah ambruknya musala di Ponpes Al Khoziny.
Insiden tragis ini terjadi saat para santri sedang melaksanakan salat Asar, mengakibatkan puluhan santri terluka dan memakan korban jiwa.
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jatim, Imam Turmidi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menurunkan tim ke lokasi kejadian untuk memberikan pendampingan kepada pihak pesantren dan keluarga korban.
"Kami turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas musibah ini. Kami juga telah mengirim tim ke lokasi untuk memberikan pendampingan dan dukungan kepada pesantren serta para korban," ujar Imam Turmidi, Selasa (30/9).
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jatim, Syaikhul Hadi, menambahkan bahwa Kemenag Jatim akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait dalam penanganan pasca kejadian.
"Kami dari Kanwil Kemenag Jatim sangat prihatin. Ini adalah duka kita bersama. Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak pesantren dan pemerintah daerah dalam proses penanganan serta pemulihan," kata Syaikhul Hadi. (dik/rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari