Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tiga Kabupaten di Jatim Ini Paling Tinggi Angka Buta Huruf 

Mus Purmadani • Sabtu, 12 Juli 2025 | 00:08 WIB
Ilustrasi buku pelajaran untuk murid sekolah dasar. (IST)
Ilustrasi buku pelajaran untuk murid sekolah dasar. (IST)

RADAR SURABAYA – Jawa Timur masih menghadapi persoalan serius terkait Angka Buta Huruf (ABH), terutama di tiga kabupaten yang mencatatkan angka tertinggi di tahun 2024.

Berdasarkan data dari Pusat Data Statistik, Kabupaten Sampang menjadi daerah dengan ABH tertinggi sebesar 14,02 persen, disusul Kabupaten Probolinggo (11,22 persen), dan Kabupaten Bondowoso (9,94 persen).

Anggota Fraksi NasDem DPRD Jatim, Khusnul Arif, menyebut kondisi geografis dan sosial budaya menjadi penyebab utama tingginya ABH di wilayah tersebut. Menurutnya, keterisolasian wilayah, rendahnya mobilitas penduduk, serta keterbatasan infrastruktur pendidikan dasar menjadi hambatan signifikan dalam pemerataan akses pendidikan.

"Ketiganya memiliki karakteristik sosial budaya yang serupa, seperti kuatnya pengaruh budaya lokal dan rendahnya mobilitas penduduk," ujarnya.

Sebaliknya, daerah dengan angka buta huruf terendah justru berasal dari wilayah perkotaan dengan infrastruktur yang memadai. Kabupaten Sidoarjo mencatat ABH sebesar 0,69 persen, Kota Surabaya 1,08 persen, dan Kota Pasuruan 1,15 persen.

Dalam dokumen RPJMD 2025–2029, pengembangan sumber daya manusia berkualitas telah ditetapkan sebagai isu strategis, terutama dalam Misi 4 ‘Jatim Cerdas’. Sejumlah program prioritas seperti BOSDA, Double Track Pendidikan, Revitalisasi SMK, hingga East Java World Class Education dan MILEA telah disusun.

Namun, Khusnul menilai belum ada pendekatan afirmatif yang menyasar langsung wilayah dengan ABH tinggi. Ia mendorong perlunya aksi afirmatif berbasis data spasial dan penguatan sinergi lintas sektor melalui program keaksaraan fungsional yang terintegrasi dengan pelatihan keterampilan hidup seperti literasi keuangan, kewirausahaan mikro, dan keterampilan agraris.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan nonformal dan informal di komunitas adat, pesantren tradisional, serta kawasan terpencil. Menurutnya, pengukuran capaian keaksaraan harus menjadi bagian dari indikator utama pembangunan, termasuk dalam pengurangan kemiskinan struktural. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#angka buta huruf #buta aksara #Jawa Timur #buta huruf tertinggi jatim #buta huruf