RADAR SURABAYA - Dinas Sosial Jatim memulangkan ribuan orang telantar (OT) ke berbagai wilayah di Indonesia. Sejak tahun 2019 hingga 31 Mei 2025 total yang dipulangkan sebanyak 8.097 orang terlantar.
Lima provinsi tercatat sebagai daerah asal orang terlantar terbanyak yang menjadi tujuan pemulangan oleh Dinsos Jatim.
Lima provinsi tersebut adalah Jawa Barat sebanyak 1.715 orang, Jawa Tengah 917 orang, Jawa Timur 612 orang, DKI Jakarta 518 orang, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanyak 367 orang.
"Mereka sempat telantar di wilayah Jawa Timur dan kemudian berhasil dipulangkan," kata Kepala Dinsos Jatim, Restu Novi Widiani, Minggu (22/6).
Jika melihat dari data keseluruhan, pemulangan orang terlantar yang dilakukan Dinsos Jatim sejak 2019 menunjukkan tren yang fluktuatif.
Tahun 2019 sebanyak 1.262 orang terlantar dipulangkan, lalu turun menjadi 1.036 orang terlantar pada 2022.
Namun pada 2023 meningkat tajam menjadi 1.645 orang terlantar dan naik lagi pada 2024 menjadi 1.905 orang terlantar.
Sementara hingga akhir Mei 2025, sebanyak 725 orang terlantar telah berhasil dipulangkan.
Faktor utama yang menyebabkan ketelantaran adalah alasan kehabisan bekal ketika di perjalanan hingga penipuan lowongan pekerjaan.
"Pemulangan dilakukan baik secara langsung maupun estafet, bekerja sama dengan Dinsos kabupaten/kota terdekat dari daerah asal orang terlantar atau melalui Dinsos provinsi bila harus melintasi lintas wilayah," ujarnya.
Novi mengatakan dalam kondisi khusus, seperti orang terlantar yang rentan atau membutuhkan pendampingan, Dinsos Jatim tetap mendampingi hingga ke Dinsos daerah asal atau pemerintah desa setempat.
"Pemulangan ribuan orang terlantar ini didukung sistem informasi pelayanan publik yang inovatif, yakni Sistem Informasi Manajemen Pemulangan Orang Telantar yang Terintegrasi dan Teredukasi (Simlontar Rek).Dengan sistem ini, proses identifikasi hingga pemulangan dapat dilakukan secara lebih cepat, terarah, dan terkoordinasi," jelasnya.
Novi mengatakan, langkah ini merupakan bentuk nyata kepedulian kepada yang kehilangan arah dan harapan.
"Kami memandang para orang terlantar ini sebagai manusia yang perlu dipulihkan harkatnya. Bukan sekadar dipulangkan, tapi dirangkul dengan empati. Inilah wujud kehadiran negara kepada masyarakat," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari