RADAR SURABAYA - Masih maraknya masyarakat membuang sampah ke sungai hingga industri yang membuang limbah tanpa diolah, membuat komunitas Ronda Sungai melakukan penyisiran dengan berenang menyusuri Sungai Brantas dari pintu air Mlirip, Mojokerto hingga pintu air Gunungsari, Surabaya.
Koordinator aksi renang Ronda Sungai, Alaika Rahmatullah mengatakan, aksi berenang menyusuri sungai merupakan bentuk kecintaan pada Sungai Brantas yang penting bagi kehidupan yang dilalui Sungai Brantas.
Sehingga pihaknya tidak ingin sungai tersebut rusak akibat limbah dan sampah plastik.
"Kami ngintir (berenang, Red) untuk mengaudit kesehatan sungai Brantas segmen hilir, karena 2024 marak ditemukan industri membuang limbah tanpa diolah dan aktivitas masyarakat membuang sampah ke sungai, menjadikan Indonesia menjadi negara terbesar ketiga penyumbang sampah plastik," ujar Alaika, Senin (16/9).
Dengan berenang menyusuri sungai sepanjang 40 kilometer pihaknya ingin melihat langsung terutama outlet pembuangan limbah cair pabrik yang membuang tanpa diolah.
Padahal air sungai yang digunakan untuk membuang limbah merupakan bahan baku perusahaan air minum daerah.
Dari hasil berenang dari 9-11 September, Alaika mengaku menemukan 117 timbunan sampah plastik yang berserakan di berbagai titik mulai dari Mlirip Mojokerto sampai Bambe Gresik.
Timbulan sampah ini berasal dari rumah-rumah ilegal yang berdiri di bantaran sungai.
Selain itu, lebih dari 368 bangunan liar berupa rumah, tempat usaha, warung, gudang dan bangunan permanen yang melanggar hukum karena berada di bantaran sungai.
Juga temuan air sungai berbau amis di wilayah Driyorejo dan Cangkir, disebabkan oleh buangan limbah domestik dari kamar mandi, cuci piring, dan limbah domestik yang dibuang langsung tanpa diolah.
Ditemui juga sekitar empat pabrik yang diduga menurunkan kualitas air sungai.
"Kondisi air sungai yang keruh dan berbau jelas menunjukkan telah terjadi penurunan kualitas air. Kami merasakan gatal-gatal dikulit lebih sering saat memasuki wilayah Driyorejo dibandingkan Wilayah Wringinanom, kemungkinan dikarenakan banyaknya limbah domestik dan limbah pabrik yang masuk ke sungai sehingga air menjadi lebih kotor dan tidak bersih lagi” ungkapnya.
Dengan adanya hasil temuan tersebut dia menegaskan bahwa pemerintah telah abai terhadap sungai, karena 80 persen dari hasil survei yang dilakukan pada 600 responden menyebutkan pemerintah mengabaikan pengelolaan sungai.
"Hasil survei ini mengkonfirmasi temuan tim Ronda Sungai yang menemukan kondisi sungai Brantas bagian hilir yang tidak terurus. Jadi pemerintah, industri dan masyarakat harus melakukan pemulihan kesehatan sungai agar Sungai Brantas kembali sehat dan dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan menuju Indonesia Emas," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari