Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

8 Wilayah di Jatim Terancam Kekeringan dan Gagal Panen, Ini Upaya yang Dilakukan Pemprov

Mus Purmadani • Kamis, 5 September 2024 | 18:33 WIB
SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (ILUSTRASI/NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN)
SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (ILUSTRASI/NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN)

RADAR SURABAYA – Musim kemarau membuat sejumlah lahan pertanian di Jawa Timur mengalami kekeringan. Bahkan kekeringan di sejumlah lahan di Jawa Timur ini menyebabkan tanaman pertanian puso atau gagal panen.

Dari data yang diperoleh Radar Surabaya per Agustus 2024 untuk tanaman padi, total areal terdampak kekeringan seluas 31.588,94 hektare dengan puso seluas 7.666,80 hektare. Daerah terdampak terluas terjadi di Kabupaten Lamongan seluas 11.736,0 hektare dengan puso 5.335,50 hektare.

Lalu Kabupaten Gresik seluas 5.954,5 hektare dengan puso 1.477 hektare. Disusul Kabupaten Pacitan seluas 5.785,50 hektare tidak terjadi puso, kabupaten Bojonegoro seluas 5.713,0 hektare dengan puso 92 hektare. Kabupaten Tuban seluas 1.089,4 hektare dengan puso seluas 239,40 hektare.

Kemudian Kabupaten Nganjuk seluas 698,0 hektare dengan puso 204 hektare, Kabupaten Mojokerto seluas 268,5 hektare dengan puso 257,5 hektare dan Kabupaten Jombang seluas 130 hektare dengan puso 20 hektare.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sumber Daya Air (SDA) Baju Trihaksoro mengatakan Kementerian Pertanian MoU dengan Kementerian PUPR dan Kementerian Lingkungan Hidup terkait ketahanan pangan nasional. Yakni ketahanan pangan Jawa Timur untuk beras sudah melampaui target.

“Tapi diharapkan untuk membantu provinsi lain dengan program pompanisasi. Saat ini sudah ada sekitar 6000 pompanisasi. Namun rata-rata masih kewenangan pusat. Yakni di Sungai Brantas dan Bengawan Solo,” katanya kepada Radar Surabaya, Kamis (5/9)

Menurutnya hingga saat ini Jatim masih menjadi lumbung pangan. Baju menambahkan ini harus terus dijaga.

“Pastinya bukan hanya menjadi tugas petani. Namun juga peran seluruh petugas irigasi yang menjaga kelancaran pengairan lahan pertanian. Tujuannya agar kedaulatan pangan bisa terjaga,” jelasnya.

Dengan adanya pompanisasi tersebut, lanjut Baju, untuk dulunya wilayah yang bisa dua kali panen beras, dengan program ini tentunya bisa tiga atau empat kali panen beras. “Bisa meningkat jumlah panennya, termasuk yang tidak bisa panen bisa panen,” katanya.

Baju mengatakan pihaknya mengoptimalkan beberapa upaya untuk mengatasi kekeringan. Yakni konservasi air, pendayagunaan air, dan pengendalian usaha air.

“Masalah air adalah masalah bersama. Karena itu, kami berkoordinasi dengan berbagai dinas terkait agar bisa diminimalisir. Kami juga mempunyai tanggung jawab mempertahankan Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Indonesia. Karena itu, kami berusaha keras agar irigasi tetap bisa berjalan lancar,” pungkasnya. (mus)

Editor : Jay Wijayanto
#dpu sumber daya air #gagal panen #sawah puso #kekeringan #pemprov jatim