Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Capaian Vaksinasi Polio Putaran Pertama di Jawa Timur Sudah 99,7 Persen, Ini Harapan Kadinkes Jatim

Mus Purmadani • Kamis, 25 Januari 2024 | 02:00 WIB
PENCEGAHAN: Penyakit polio hanya bisa dicegah dengan melakukan imunisasi lengkap dan rutin. (RAHMAT S/RADAR SURABAYA)
PENCEGAHAN: Penyakit polio hanya bisa dicegah dengan melakukan imunisasi lengkap dan rutin. (RAHMAT S/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Capaian vaksinasi polio di Jawa Timur pada Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio putaran pertama pada 15-21 Januari, mencapai angka 4.424.154 atau setara 99,7 persen.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jawa Timur Dr Erwin Astha Triyono, Selasa (23/1).

"Target vaksinasi polio di Jatim sebanyak 4.437.679 anak. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menyukseskan pelaksanaan Sub PIN Polio putaran kedua pada 19-25 Februari 2024," katanya.

Erwin berharap vaksinasi polio ini bisa tuntas.

Target atau sasaran vaksinasi pertama dan kedua tetap sama.

"Vaksinasi atau imunisasi polio yang menjadi program nasional ini bertujuan untuk mencegah penularan virus polio," katanya.

"Kita akan memutus rantai penularannya dengan cara melakukan Sub PIN polio dua kali pada tanggal 15-21 Januari selama satu minggu. Kemudian pada tanggal 19-25 Februari kemudian juga kita lakukan lagi, sehingga dengan dua kali itu diharapkan rantai penularannya terputus," imbuhnya.

Erwin menambahkan karena pengelolaannya lewat saluran cerna, kotoran yang masuk ke sungai dan sebagainya dan itu nanti polionya bisa nyangkut di makanan dan masuk ke dalam mulut, maka yang dibutuhkan adalah kebersihan sanitasi.

"Kami mengimbau bagi yang buang air besar agar di jamban tertutup. Selain itu juga jangan buang air besar ke sungai untuk mencegah penularan lebih lanjut. Sementara yang memakai popok siap pakai supaya disimpan dengan baik," katanya.

Menurutnya jangan dibuang sembarangan supaya jangan sampai menular ke sungai dan seterusnya.

"Jangan lupa cuci tangan juga. Jadi pola hidup bersih dan sehat juga sangat membantu diharapkan nanti setelah dua kali ini ditambah pola hidup sehat Jawa Timur InsyaAllah lepas dari polio," terangnya.

Terpisah, Pakar Komunikasi Kesehatan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Liestianingsih Dwi Dayanti bilang, pencegahan polio tidak cukup dengan sosialisasi kesehatan saja.

Menurutnya, perlu adanya pendekatan lain yakni pendekatan budaya yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Dengan pendekatan ini kita bisa melibatkan tokoh-tokoh masyarakat seperti tokoh agama, tokoh adat, dan lain-lain,” katanya.

Pendekatan kesehatan maupun budaya perlu menyasar seluruh wilayah Indonesia, termasuk wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal).

Pasalnya, hingga saat ini sosialisasi vaksin polio masih belum merata di seluruh Indonesia.

“Contohnya pendekatan di sekolah-sekolah. Atau bisa juga petugas vaksinasi langsung menyebar ke masyarakat layaknya vaksinasi Covid-19. Dengan demikian, sosialisasi vaksinasi polio dapat menjangkau seluruh elemen masyarakat,” pungkasnya. (mus/rmt/opi)

 

Editor : Jay Wijayanto
#Vaksinasi #penularan virus #pekan imunisasi #imunisasi polio #dinkes jatim