SURABAYA - Rencana pembelajaran tatap muka (PTM) pada Juli makin dimatangkan Pemerintah Kota Surabaya. Tidak hanya persiapan teknis, juga dilakukan antisipasi penyebaran Covid-19. ”Siswa tatap muka tetap diukur suhunya tapi tidak perlu swab,” ujar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Hingga saat ini, Pemerintah Kota Surabaya sudah membagikan form pengisian kepada orang tua atau wali murid. Form tersebut untuk memastikan kesediaan keluarga dan orang tua bahwa siswa boleh mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka. ”Persiapan tatap muka untuk SMP dan SD kita sudah sebar form pengisian kepada orang tua,” ujar Eri.
Namun, menurut Eri tidak menutup kemungkinan wali murid yang menolak atau tidak berkenan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka. Pihaknya minta sekolah untuk menyediakan pembelajaran daring. ”Tapi yang pasti dari form itu tidak semua wali murid ingin anaknya tatap muka karena masih ragu. Kita menyediakan dua cara secara tatap muka dan daring,” kata Eri.
Dia menjelaskan, akan memfasilitasi siswa yang merasa nyaman daring atau tatap muka. ”Apalagi ada yang mengatakan kalau di dalam rumah saja kemampuan tidak meningkat,” ujar Eri. Aturan lain, lanjut dia, adalah pengisian 25 persen siswa di ruang kelas. Sehingga physical distancing bisa terjaga. Selain itu, kantin juga masih dilarang buka.
”Tidak boleh keluar dan tidak ada kantin. Istirahat di dalam kelas dan langsung pulang. Makan di kelas selesai sebelum jam 12.00. Jadi kami hindari jam duhur di sekolah,” urai Eri.
Saat ini, lanjut Eri, pemkot sedang berfokus pada vaksinasi guru. Bagi guru yang masih satu kali divaksin, dilarang datang ke sekolah. ”Untuk PTM, guru harus divaksin. Kalau guru masih satu kali disuntik vaksin tidak boleh melakukan tatap muka. Kecuali sudah dua kali,” kata Eri.(rmt/rak)
Editor : Administrator