SURABAYA - Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mengingatkan potensi jumlah pasien Covid-19 di Jawa Timur bisa melebihi DKI Jakarta. Menurutnya meski saat ini kasus positif di ibu kota negara berada pada angka 9.000 orang dan Jatim 8.000 orang, namun lambat laun bisa tersalip.
“Artinya bahwa dibutuhkan upaya yang luar biasa untuk menurunkan ini. Walaupun Jatim jumlah penduduknya lebih banyak dibanding DKI Jakarta,” ujar Jusuf Kalla saat melakukan kunjungan ke Gedung Negara Grahadi, Rabu (17/6).
Pria yang akrab disapa JK ini mengatakan angka penambahan jumlah positif Covid-19 di Jatim tiap hari terjadi perbedaan rata-rata 150 orang, lebih tinggi Jatim. Kalau itu berarti dalam seminggu berlangsung terus, maka Jatim bisa lebih tinggi dari Jakarta. “Bahkan Jakarta cenderung mulai stabil turun, Jatim naik, maka ini bisa terjadi begitu,” jelasnya
Mantan Wakil Presiden RI ini juga mengingatkan perlunya langkah yang sistematis agar tidak terus melonjak. Selain juga koordinasi yang baik antar kepala daerah, gubernur bersama wali kota dan bupati harus membagi tugas sesuai tupoksi untuk menurunkan angka pasien positif Covid-19.
“Karena itu kita bersama-sama untuk mencegah, mesti menurunkannya. Saya percaya bu gubernur bekerja luar biasa, wali kota bekerja keras. Tapi perlu (langkah) sistimatik dan kordinasi,” ungkapnya.
JK menambahkan PMI akan membantu Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim maupun tim kedokteran untuk melakukan upaya donor plasma convalescent dari pasien yang sembuh dari Covid-19. Menurutnya PMI siap untuk membantu penyediaan plasma yang sudah diseleksi kemudian dikerjakan tim kedokteran oleh Rumah Sakit.
Sementara itu JK yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) pusat ini mengaku pihaknya membuat gebrakan baru untuk menggelar ibadah salat Jumat pada masa transisi new normal ini. Yakni dengan menggunakan skema salat ganjil genap berdasarkan dari nomor handphone.
“Upaya ini adalah untuk mengurangi penumpukan jamaah sehingga tidak terjadi penularan virus Covid-19. Meski demikian konsep ganjil genap ini masih terus dimatangkan karena berdasar penelitiannya ketika pemberlakuan salat Jumat pertama 12 Juni lalu, karena di dalam terbatas sehingga banyak orang yang justru salat di jalanan,” jelasnya.
JK mengatakan salat Jumat harus dilakukan dua shift dan telah disetujui Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia menambahkan akan sangat berdosa jika tidak memberi kesempatan orang untuk salat Jumat. “Kami meminta para pengurus masjid dan jamaah juga harus tetap melaksanakan protokol kesehatan selama melakukan ibadah di masjid. Sehingga, diharapkan upaya itu dapat memfasilitasi warga tetap beribadah dan juga berada dalam kondisi yang sehat,” paparnya.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, bantuan dari PMI ini sangat penting karena telah memiliki alat untuk melakukan donor. Sehingga dengan kerjasama ini diharapkan dapat mempercepat pelayanan perawatan terhadap pasien-pasien Covid-19.
“Kalau sudah sembuh dari Covid-19, setelah tiga minggu mereka bisa diajak mendonorkan plasma darahnya. Dan Pak JK memberikan arahan agar PMI bisa membantu. Nanti akan berkoordinasi dengan rumah sakit yang akan menggunakan itu sebagai bagian dari terapi plasma darah,” pungkasnya. (mus)
Editor : Administrator