JEMBER - Universitas Jember (Unej) terus berupaya menjadi yang lebih baik. Mulai tahun ajaran mendatang (2019-2020), Unej akan membuka Program Studi (Prodi) Teknik Pertambangan dan Program Studi Teknik Perminyakan. Dua program studi ini berada di bawah naungan Fakultas Teknik.
Kedua program studi baru tadi sudah bisa dipilih oleh lulusan SMA sederajat dalam penerimaan mahasiswa baru tahun 2019 melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan jalur mandiri Universitas Jember.
Kepastian pembukaan program studi baru ini setelah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menerbitkan surat izin pembukaannya pada November 2018 lalu.
Menurut Dekan Fakultas Teknik, Entin Hidayah, Program Studi Teknik Pertambangan akan fokus pada pengelolaan pasca tambang, dan bagaimana mengelola tambang yang berwawasan lingkungan.
“Dalam proses pertambangan dikenal tiga tahapan, yakni tahap eksplorasi dimana ahli tambang akan mencari dan menemukan daerah yang mengandung mineral tertentu. Kemudian tahap eksploitasi atau tahap penambangan, dan tahap rehabilitasi atau tahap pengelolaan pasca tambang,” jelasnya saat ditemui di Kampus FT Universitas Jember, Kamis (3/1).
Fokus di tahap pengelolaan pasca tambang ini dipilih mengingat semua perguruan tinggi yang memiliki Program Studi Teknik Pertambangan di Indonesia lebih berkonsentrasi pada tahap eksplorasi dan eksploitasi tambang.
Pemilihan fokus pada tahap pengelolaan pasca tambang juga didasari oleh visi dan misi Universitas Jember yang memberikan perhatian penuh pada masalah lingkungan. Mengingat salah satu core business dan keunggulan Unej adalah bidang pertanian dan perkebunan, serta bioteknologi.
Tidak bisa dipungkiri ada tambang yang dikelola tanpa memikirkan dampaknya bagi kelestarian alam, bahkan setelah habis ditambang terbengkalai begitu saja hingga membahayakan keselamatan jiwa.
"Karena itu FT Universitas Jember berniat mencetak para lulusan yang memiliki kemampuan mengelola tambang yang berwawasan lingkungan, dan mampu mengelola tahap pasca tambang, yang justru jumlahnya di Indonesia masih minim,” imbuh Entin Hidayah.
Sementara menurut Fanteri Aji Dharma, dosen di Program Studi Teknik Pertambangan, biasanya lulusan Teknik Pertambangan lebih banyak mengurusi teknis pertambangan saja. Sementara masalah lingkungan menjadi ahli lingkungan.
“Paradigma ini yang ingin kita ubah. Lulusan Program Studi Teknik Pertambangan FT Universitas Jember akan diberi bekal ilmu Teknik Pertambangan dan juga ilmu lingkungan. Untuk itu kita sudah menyiapkan kurikulum yang sesuai, misalnya matakuliah Analisa Dampak Lingkungan, Green Mining, keselamatan dan kesehatan kerja tambang, serta memasukkan wawasan lingkungan sejak awal semester perkuliahan. Apalagi Kampus Tegalboto memiliki banyak pakar di bidang lingkungan,” tutur Fanteri yang meraih gelar masternya di Michigan Technological University, Amerika Serikat.
Pendirian Program Studi Teknik Pertambangan ini sudah melalui proses yang panjang. “Awalnya di tahun 2013 lalu, Universitas Jember mendapatkan undangan dari DPR RI guna dimintai pendapat terkait Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jember yang di dalamnya memplot daerah pertambangan.
Dari diskusi itulah lantas muncul tantangan dari DPR RI kepada Kampus Tegalboto, julukan Unej, apa solusi bagi pertambangan di Indonesia yang sudah dalam kondisi optimal atau menjelang selesai ditambang.
Lantas Universitas Jember menjawab dengan perlunya membuka Program Studi Teknik Pertambangan, namun yang lulusannya mampu mengelola tambang yang berwawasan lingkungan dan fokus pada tahap pengelolaan pasca tambang. Agar pengelolaan tambang-tambang di Indonesia yang sudah melewati masa optimalnya dapat direhabilitasi dengan baik.
Dalam masa penyusunan proposal pendirian Program Studi Teknik Pertambangan, Universitas Jember telah melakukan studi banding dan diskusi dengan pihak-pihak terkait di antaranya perguruan tinggi dalam maupun luar negeri.
Dari luar negeri, Unej menggandeng Colorado School of Mines dan Virginia Polytechnic and State University (Virginia Tech), keduanya di Amerika Serikat.
Termasuk berkonsultasi dengan Kemenristekdikti, Kementerian ESDM, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), hingga kalangan industri pertambangan. Dari proses hasil studi banding dan diskusi ini, Universitas Jember diminta membuka Program Studi Teknik Pertambangan dengan ciri khas pembeda dengan yang ada di perguruan tinggi lainnya.
Sementara itu menurut Agung Purwanto, Kepala Humas dan Protokol, Universitas Jember siap bekerjasama dengan semua pihak terutama di Jember dan sekitarnya agar tujuan Program Studi Teknik Pertambangan meluluskan tenaga pertambangan yang berwawasan lingkungan serta ahli dalam tahap pengelolaan pasca tambang dapat tercapai.
Misalnya saja bekerja sama dengan organisasi agama seperti Nahdlatul Ulama (NU) dalam memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai fiqh tata kelola sumber daya alam, dan teologi lingkungan.
“Untuk itu kami siap berdialog dan menerima masukan dari segenap stake holder Universitas Jember. Bahkan rencananya dalam waktu dekat akan ada seminar sekaligus memperkenalkan apa sih ciri khas dan keunggulan yang akan dibangun oleh Program Studi Teknik Pertambangan FT Universitas Jember itu,” kata pria yang juga dosen FISIP ini.
Keberadaan program studi baru, Teknik Pertambangan dan Teknik Perminyakan menjadikan jumlah program studi sarjana di Kampus Tegalboto menjadi 59 program studi. (rak/jay)
Editor : Administrator