Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

BMS Meruwat Kota Pahlawan Melalui Seni

Administrator • Minggu, 23 Desember 2018 | 23:50 WIB
BMS Meruwat Kota Pahlawan Melalui Seni
BMS Meruwat Kota Pahlawan Melalui Seni

SURABAYA – Bengkel Muda Surabaya (BMS) menggelar aksi kesenian dan budaya. Ini untuk memberikan semacam catatan terhadap permasalahan kota, Surabaya khususnya dan kota-kota Indonesia umumnya.


Bertempat di balai Pemuda Surabaya, pertunjukan seni yang  diberi tajuk ‘Kota dan Konstruksi Kesunyian’  ini  berdurasi kurang lebih 120 menit. Pertunjukan ini  merupakan  kompilasi dari berbagai macam disiplin kesenian seperti tari,teater, musik, senirupa, film dan sastra, yang mencoba merespon kondisi dan kesibukan sebuah kota.


“Masing-masing pelaku mengekspresikan hasil renunganya dari kondisi kota yang kompleks, termasuk didalamnya persoalan ekonomi, politik, budaya, termasuk pula permasalahan akses informasi global,” jelas Ketua Panitia Pertunjukan Kota dan Konstruksi Kesunyian, Wali Muhammad.


Lebih lanjut Wali mengungkapkan, pertunjukan ini dimaknai sebagai ruwatan untuk membarui kekeliruan lama, baik alam maupun tangan manusia, agar memberikan daya hidup kemanusiaan dalam dinamika kesibukan sebuah kota. “Pertunjukan ini tidak membagi cerita kecuali dimaksudkan untuk mencari landasan baru terciptanya kesenian urban. Mencoba menjawab tantangan warga kota agar seni tidak dipersepsi sebagai sebuah kesia-siaan yang membebani, tapi menjadi potensi yang berkontribusi terhadap perkembangan sebuah kota,” ungkap Wali


Sementara itu, Ketua Bengkel Muda Surabaya (BMS) Heroe Budiarto menuturkan, meski di tengah-tengah arus global, sebagai insan yang menggeluti di bidang seni dan budaya harus selalu terbuka, waspada dan lebih giat belajar serta mengasah kepekaan sosial. Kendati muncul istilah industri kreatif, badan ekonomi kreatif, revolusi industry kreatif, dan masih banyak lagi.


“Kami menyakini bahwa perkembangan tersebut tidak boleh lepas dari aspek sosial, memanusiakan manusia.  menghargai manusia bagian perubahan atau peradaban. Tidak berpaling karena melesatnya teknologi dan hati nurani tidak menjadi peka dan terasah,” ujar Heroe. (aji/nug)

Editor : Administrator