Hidup dengan laki-laki yang sama selama hampir 10 tahun, tentu bukan hal yang mudah. Banyak yang betah atau terpaksa betah, tapi tak sedikit pula yang akhirnya memilih pamit.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Saking mentoknya, bingung mau pakai cara apalagi agar bisa cerai dengan Donwori, 40, Karin mencoba main api.
Perempuan 34 tahun itu membuat perjanjian dengan salah satu sahabatnya, sebut saja namanya Donjuan, 35, untuk jadi selingkuhan pura-pura sukarela alias gratisan.
Tapi, berawal dari setingan, perselingkuhan ini lama-lama jadi beneran.
Karin mulai nyaman dengan segala perhatian yang diberikan Donjuan.
“Juan punya sesuatu yang tidak dipunyai Mas Wori. Bisa jadi teman ngobrol yang nyambung ke mana-mana. Aduh, kalau berduaan samaJuan, pokoknya asyik. Gak ada bosan-bosannya. Kita bisa ngobrol soal musik, makanan, hingga tikt pesawat murah,” ujar Karin saat di ruang tunggu kantor pengacara tak jauh dari Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya, sepekan lalu.
Berbeda dengan suaminya, Karin mengatakan, meskipun pernikahannya dengan bermula dari rasa cinta sama cinta, Donwori ini orangnya ternyata membosankan.
Donwori tipe laki-laki tak banyak bicara. Apalagi mengajak Karin diskusi, sama sekali bukan kebiasaan Donwori.
Pemikiran Donwori juga saklek, malah cenderung kolot.
Membuat Karin merasa tidak diorangkan di rumah.
Dan yang membuat Karin makin tak tahan, Donwori sangat temperamen.
Yang kalau marah tak ragu untuk mengungkap kata-kata kasar sekaligus kotor.
“Sebenarnya aku sudah bolak-balik pengen cerai,” lanjut Karin.
Perempuan berhijab ini mengingat-ingat, seberapa parah perlakuan kasar Donwori selama 10 tahun pernikahan.
Pernah, suatu ketika, Karin, lupa mengelap air yang ia tumpahkan di dapur.
Kala itu kok kebetulan membuat Donwori kepeleset. Meski tak luka, Donwori marah besar.
Donwori mengumpati Karin dengan kata-kata kasar dan kotor.
Karena bertahun-tahun hidup tak nyaman, Karin merasa kalau suaminya ini bukan cinta sama dia.
Namun posesif saja. Kari merasa hanya dinikahi tapi tidak pernah merasa dicintai.
Karena kesepian dan lelah dengan keadaannya inilah, Karin punya ide untuk manas-manasi suaminya.
“Jadi awalnya, aku sudah bikin perjanjian sama temenku. Kamu nanti nelepono di jam segini, segini, segini ya. Rayu-rayuen aku, nanti tak kerasin telepone biar suamiku denger,” ujar perempun asli Solo itu.
Berkali-kali permainan peran ini ia lakukan dan berhasil. Donwori yang cemburu mulai menginterogasi Karin dengan berbagai pertanyaan.
Bahkan, memberikan banyak ancaman juga. “Awas kamu yo, lek ketahuan selingkuh, habis kamu sama aku. Gitu katanya,” kisahnya, senang.
Merasa tertantang, Karin pun menaikkan level selingkuhannya.
Ia mulai berani bawa-bawa si Donjuan ke rumah. Pura-puranya si Donjuan maksa mengantar Karin pulang setelah ngumpul bareng teman yang lain.
Di awal-awal, Donjuan hanya menunggu di halaman rumahnya, namun lama kelamaan mulai Karin ajak masuk ke rumah, kenalan dengan suami. Jelas Donwori panas alias mulai terpancing emosi.
Namun, karena belum maksimal memanas-manasi Donwori, Karin mengeluarkan jurus pamungkas.
Ia sengaja pulang sangat larut malam. Sebenarnya sih ia hanya ngopi-ngopi biasa sama Donjuan.
Namun setiap kali Donwori menelepon, handphonenya buru-buru ia berikan kepada Donjuan.
Ketika Donjuan mengangkat telepon ini, Karin pun pura-pura menyaut dari jauh, dan berkata, “Siapa sayang, sebentar masih mandi.” Itulah cerita Karin sambil cekikikan.
Dari drama yang terakhir ini, Donwori ngamuk besar dan akhirnya menjatuhkan talak.
Meski tentu dibarengi dengan cacian terlebih dahulu. Namun Karin tetap lega. (*/opi)
Editor : Nofilawati Anisa