Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pilih Pisah Ketimbang Serumah dengan Mertua yang Ruwet

Administrator • Selasa, 22 September 2020 | 23:08 WIB
Pilih Pisah Ketimbang Serumah dengan Mertua yang Ruwet
Pilih Pisah Ketimbang Serumah dengan Mertua yang Ruwet

Setelah dua tahun menikah, Karin, 28, beranjak pergi dari kehidupan Donwori, 30, selamanya. Hanya gara-gara tidak lagi sepaham soal mengurus rumah tangga. Ia tidak betah kalau harus tinggal bersama mertua.

Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya
 
Sejak menikah dengan Donwori, Karin tinggal bersama mertuanya.  Nah, dari sinilah persoalan muncul. Ternyata, tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) tak selalu indah. Yang dialami Karin, justru mirip cerita di sinetron-sinetron.


Memang tidak semua mertua seperti itu (cerewet, mau tahu, ikut campur, dll, Red), tapi kok ndilalah yang dialami Karin ini versi jeleknya. Maksudnya, ia bertemu mertua yang diakuinya bikin hidupnya menjadi rumit. “Pokoknya semua serba salah,” tegas Karin dengan perasaan dongkol.


Ceritanya, Donwori itu anak bungsu. Semua kakaknya tidak ada yang tinggal di Surabaya. Ada yang di Jakarta, Manado, bahkan Kupang. “Ya karena bungsu itu lah Mas Wori harus tetap tinggal serumah dengan bapak ibu,” lanjut Karin, masih dengan nada jengkel.


Donwori tidak bisa lepas dari orang tuanya, juga karena bapak-ibunya itu sudah sepuh. Kalau bukan Donwori, siapa lagi bakal merawat. Wong orang tuanya juga nggak mau ikut anak-anaknya yang lain. “Mertuaku maunya ya di rumahnya itu. Otomatis Mas Wori nggak boleh cari rumah sendiri. Hidupnya ya harus satu rumah dengan bapak ibu,” bebernya.


Nah, yang bikin Karin jengkel, mertuanya itu ternyata kategori orang yang cerewet dan detil. Seringkali ngomel kalau yang dilakukan Karin tidak sesuai keinginan atau kemauannya.


“Misalnya, pulang kerja harus tepat waktu. Padahal seringkali kerjaan baru rampung setelah jam pulang kantor. Jadinya nyampek rumah sudah mahgrib. Gitu mertua langsung ngomel sampek malam,” curhatnya.


Hal-hal sepele seperti itu sudah dikomunikasikan dengan Donwori. Sayangnya, Donwori tak bisa bersikap tegas. “Mas Wori cenderung membela ibunya. Ya maklum juga sih…,” sungutnya.


Lama kelamaan, Karin jengah juga. Ia merasa gak diuwongne, baik oleh mertua maupun Donwori yang tak lain tak bukan adalah suaminya sendiri.


Karin juga pernah memberi ide untuk mandiri. Artinya, pindah dari rumah mertua dan ngontrak sendiri. “Tapi, Mas Wori malah ngamuk gak karu-karuan,” sambungnya.


Donwori ngotot tak mau meninggalkan orang tuanya. Sementara Karin juga tak mau lagi tinggal di PMI. Akhirnya, Karin pun memilih mengibarkan bendera putih. Ia menyerah.


“Mumpung pernikahan masih dua tahun. Juga mumpung belum ada anak, saya tak mundur saja. Saya sudah nggak sanggup,” kata Karin ngacir membawa berkas-berkas yang dibutuhkan untuk melengkapi gugatan cerainya di Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya. (*/opi)

Editor : Administrator
#iso ae #Donjuan #Balada Rumah Tangga #Donwori #Karin