RADAR SURABAYA - Kekalahan telak 0-4 dari Atlético Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey membuat pelatih Hansi Flick naik pitam.
Hasil pahit yang dialami FC Barcelona itu disebut sebagai momen ketika Flick paling marah sejak menukangi Blaugrana.
Bertanding di Stadion Metropolitano, Barcelona takluk tanpa balas. Empat gol Atletico tercipta dengan dominasi penuh, terutama pada babak pertama yang menjadi sorotan utama Flick.
Rekor Buruk Barcelona dan Flick
Kekalahan ini menjadi yang terburuk bagi Barcelona atas Atletico sejak 1960. Bagi Flick pribadi, hasil tersebut juga tercatat sebagai kekalahan terbesar sepanjang karier kepelatihannya.
Lebih ironis lagi, Barcelona kembali kebobolan empat gol dalam satu babak untuk pertama kalinya sejak kekalahan 2-8 dari Bayern Munich di Liga Champions beberapa tahun silam—tim yang saat itu justru dilatih oleh Flick.
Catatan ini mempertegas betapa rapuhnya performa Barcelona, terutama dalam 45 menit pertama laga.
Tetap Tenang di Depan Media, Meledak di Ruang Ganti
Seusai pertandingan, Flick tampil relatif tenang saat memberikan pernyataan kepada media. Ia mengakui timnya “diberi pelajaran” pada babak pertama, tetapi tetap menyatakan kebanggaannya terhadap performa tim sepanjang musim.
Namun, suasana berbeda terjadi di ruang ganti. Sejumlah laporan media Spanyol menyebutkan bahwa Flick meluapkan kemarahannya kepada para pemain. Dalam 18 bulan masa kepemimpinannya, belum pernah ia terlihat semurka itu.
Pergantian Marc Casado pada babak pertama, yang digantikan oleh Robert Lewandowski, menjadi sinyal jelas ketidakpuasan sang pelatih.
Meski sempat memberi dukungan secara personal kepada Casado, Flick disebut meninggikan suara saat jeda pertandingan.
Ia bahkan menyampaikan kritik keras kepada skuadnya, menilai tim tampil tanpa intensitas dan semangat juang.
Lini Tengah dan Depan Jadi Sorotan
Dalam evaluasi internal keesokan harinya, Flick kembali menegaskan bahwa ia tidak memahami bagaimana para pemain bisa tampil tanpa determinasi sejak menit awal.
Secara khusus, ia menyoroti kinerja lini tengah dan lini serang yang dinilai gagal melakukan pressing secara efektif. Minimnya tekanan membuat Atletico leluasa mengontrol permainan.
Meski lini belakang—termasuk Eric Garcia dan Alejandro Balde—mendapat kritik karena tampil rapuh, Flick lebih kecewa pada sektor gelandang dan penyerang yang dianggap tidak menunjukkan agresivitas.
Direktur Olahraga Barcelona, Deco, juga mengamini bahwa tim kehilangan intensitas di babak pertama.
Tantangan Berat Kontra Girona
Barcelona tidak punya banyak waktu untuk meratapi kekalahan ini. Dalam tiga hari ke depan, Flick harus memulihkan mental tim sekaligus menyiapkan strategi baru.
Blaugrana dijadwalkan menghadapi Girona FC di Stadion Montilivi pada laga lanjutan kompetisi domestik. Kegagalan meraih kemenangan berpotensi memperbesar tekanan dan menggoyang kepercayaan diri tim.
Kekalahan dari Atletico bukan sekadar soal skor, tetapi juga menjadi alarm keras bagi Barcelona bahwa konsistensi dan intensitas adalah harga mati jika ingin bersaing di level tertinggi.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan