RADAR SURABAYA - Tidak semua kisah sukses dimulai dengan tepuk tangan meriah. Begitu juga perjalanan Harry Kane di Bayern Munich.
Saat pertama kali diumumkan sebagai rekrutan anyar dengan nilai transfer fantastis, sekitar £95 juta pada musim panas 2023, media Jerman sempat meragukan langkah klub raksasa Bundesliga itu.
Kini, dua tahun berselang, keraguan itu berubah menjadi permintaan maaf.
Skeptis Menjadi Salut
Ketika Kane mendarat di Bavaria, banyak pihak menilai harganya terlalu mahal untuk seorang penyerang berusia 30 tahun yang belum pernah merasakan gelar juara.
Salah satunya datang dari wartawan senior BILD, Alfred Draxler. Ia terang-terangan menulis bahwa Bayern bisa saja memilih opsi lebih murah, seperti Niclas Fullkrug yang kala itu mencetak 16 gol bersama Werder Bremen.
Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Sejak debutnya, Kane menjelma menjadi mesin gol mematikan. 98 gol dalam 103 penampilan plus 29 assist adalah statistik yang membuat mulut ternganga.
Publik Jerman tersentak dengan penampilan Harry Kane. Usia yang terbilang melewati golden age ternyata tidak membuatnya berhenti mencetak gol.
Lebih dari sekadar pencetak gol, ia menjadi pusat permainan Bayern, penghubung lini tengah dengan serangan, sekaligus sosok yang membawa kepercayaan diri bagi rekan-rekannya.
Kegemilangan itu membuat Draxler akhirnya mengaku salah.
“Saya pikir terlalu mahal untuk pemain berusia 30 tahun. Tapi Kane tidak pernah cedera, dan itu bukan kebetulan. Itu hasil dari disiplin dan kerja keras. Sekarang, saya rela bangun pagi hanya untuk menaruh handuk di kursi malasnya,” tulisnya, setengah bercanda namun sarat penyesalan ternyata tulisannya dua tahun lalu salah besar.
Hattrick yang Menutup Mulut Kritik
Permintaan maaf Draxler muncul setelah Kane mencetak hattrick dalam kemenangan 4-1 atas Hoffenheim di Bundesliga.
Torehan itu membuat koleksi golnya musim ini menjadi delapan hanya dari empat laga, angka yang sulit disamai penyerang mana pun di Eropa.
Di mata publik Jerman, Kane bukan lagi “transfer mahal berisiko tinggi,” melainkan simbol investasi jangka panjang yang mendatangkan hasil instan.
Masa Depan: Bertahan atau Pulang ke Liga Primer Inggris?
Meski performanya terus gemilang, masa depan Kane di Bayern masih menyisakan tanda tanya. Kontraknya baru akan habis pada 2027, namun klub sudah mendatangkan Nicolas Jackson dari Chelsea dengan opsi pembelian permanen.
Analis sepak bola Jerman, Raphael Honigstein, menilai langkah ini adalah bentuk antisipasi.
“Bukan rahasia bahwa banyak yang tidak yakin Kane akan pensiun di Bayern. Klub mulai menyiapkan penerusnya, meski siapa pun yang datang tak bisa serta-merta menggantikannya,” ujar Honigstein.
Mengejar Rekor Legenda Inggris
Di balik kegemilangannya di Jerman, Kane masih menyimpan ambisi pribadi di tanah kelahirannya. Saat ini ia menempati peringkat kedua pencetak gol terbanyak sepanjang masa Liga Primer dengan 213 gol, hanya terpaut 48 gol dari rekor Alan Shearer.
Jika suatu hari kembali ke Inggris, Kane berpeluang menuliskan babak baru dalam sejarah sepak bola dengan memecahkan rekor tersebut—sebuah target yang tak pernah lepas dari pikirannya.
Dari Cemooh Jadi Pujaan
Kisah Harry Kane di Bayern Munich adalah pelajaran bahwa keraguan bisa berubah menjadi pengakuan. Dari media yang dulu meremehkan, kini justru lahir rasa hormat.
Dan bagi Kane sendiri, setiap gol yang ia cetak seolah menjadi jawaban paling elegan: harga mahal bukanlah masalah jika kualitas dan konsistensi berbicara di lapangan.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan