RADAR SURABAYA - Madison Keys menggagalkan ambisi Aryna Sabalenka untuk meraih tiga gelar Australia Terbuka berturut-turut dengan kemenangan dramatis pada final tunggal putri di Melbourne, Sabtu.
Sabalenka, yang datang dengan target menjadi wanita pertama sejak Martina Hingis pada 1999 yang memenangkan tiga gelar Australia Terbuka berturut-turut, harus puas setelah kalah 6-3, 2-6, 7-5 di tangan unggulan ke-19 asal Amerika Serikat.
Sabalenka yang menjuarai Australia Terbuka pada 2023 dan 2024 tidak mampu mengatasi tekanan dari Keys, yang akhirnya meraih gelar Grand Slam pertamanya.
Kemenangan ini juga menandai pencapaian bersejarah bagi Keys, yang menjadi pemain tunggal putri pertama yang memenangkan gelar Australia Terbuka tanpa memenangkan pertandingan langsung sejak putaran keempat.
Pada final tersebut, Madison Keys memperlihatkan permainan menyerang yang sangat solid, membalikkan keadaan setelah kalah di set kedua.
Sabalenka, meski berusaha bangkit, gagal mempertahankan konsistensinya, terutama saat kehilangan servis di set pertama yang mengarah pada kekalahan.
Keys, yang sebelumnya hanya satu kali mencapai final utama di AS Terbuka 2017, menunjukkan mentalitas juara dalam meraih gelar pertama Grand Slam-nya di Australia.
Sementara itu, Aryna Sabalenka menangis tersedu-sedu di balik handuknya setelah kalah di final Australia Terbuka dari Madison Keys.
Petenis nomor 1 dunia itu membanting raketnya ke lantai karena frustrasi setelah kalah 3-6, 6-2, 5-7 dari petenis Amerika itu.
Kekalahan itu membuat Sabalenka gagal meraih kemenangan ketiga berturut-turut di Aussie Open setelah ia memenangkan turnamen itu pada tahun 2034 dan 2024.
Petenis Belarusia itu harus mencapai final dengan cara yang sulit, mengalahkan teman dekatnya Paula Badosa di semifinal, tetapi tidak dapat mengumpulkan kekuatan untuk mengalahkan salah satu pemukul terkeras dalam permainan itu.
Setelah memberi selamat kepada Keys, Sabalenka menutupi wajahnya dengan handuk di depan 15.000 penggemar di Rod Laver Arena sebelum bergegas ke ruang ganti.
Keys, petenis peringkat 19 dunia, menjadi wanita tertua keempat yang memenangkan gelar Grand Slam pertamanya pada usia 29 tahun.
"Saya sudah lama menginginkan ini, saya tidak pernah tahu apakah saya akan berada di posisi ini lagi," kata Keys.
Petenis berusia 29 tahun itu mengakui bahwa ia telah 'memikirkan pertandingan itu tanpa henti selama delapan tahun terakhir' dan jelas sejak awal bahwa pertandingan itu tidak akan terulang.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan