RADAR SURABAYA – Komitmen Sanggar Tari Mulyojoyo Enterprise (MJE) dalam melestarikan budaya sekaligus mendorong seni yang inklusif mendapat perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenkraf/Bekraf) RI.
Sanggar yang bermarkas di Jalan Tambak Medokan Ayu II Nomor 15, Surabaya, itu menerima kunjungan Tim Kemenkraf/Bekraf RI dan Tim Kabupaten/Kota Kreatif dalam rangka Uji Petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif 2026.
Kegiatan berlangsung di Gedung Kecamatan Rungkut, Surabaya. Hadir dalam kunjungan tersebut Elizabeth Tioria Gurning selaku Analis Kebijakan Ahli Madya, Safrida Fatmawati Ketua Tim Pengembangan KaTa Kreatif sekaligus Adyatama Parekraf Ahli Pertama, Dian Prasetya Hantoroputri dan Dea Yunita Ruhiat yang juga merupakan Adyatama Parekraf Ahli Pertama.
Turut mendampingi Tim Kabupaten/Kota Kreatif, yakni Luhur Fajar Martha dari Jakarta dan Suryadi Kusniawan dari Surabaya.
Pada kesempatan itu, para penari binaan MJE menampilkan lima karya tari, yakni Tari Wulandaru Surabaya sebagai tari penyambutan dan doa. Kemudian Tari Pasaran, Tari Ruang yang Bernapas yang merupakan tari kontemporer hasil kolaborasi penari disabilitas dan non-disabilitas.
Selanjutnya Tari Catatanku dari Disability Class, serta Tari Indonesia Menari yang dibawakan seluruh murid sanggar.
Penampilan tersebut menjadi gambaran nyata komitmen MJE dalam melestarikan budaya sekaligus menghadirkan ruang seni yang inklusif. Melalui berbagai karya tari, sanggar juga berupaya mengembangkan potensi ekonomi kreatif dari tingkat komunitas.
Sanggar Tari Mulyojoyo Enterprise didirikan Sri Mulyani yang telah berkecimpung di dunia tari sejak 1982. Awalnya, sanggar berdiri di Kabupaten Sidoarjo pada 1998 dengan nama Sri Production sebelum berpindah ke Surabaya dan menggunakan nama Sanggar Tari Mulyojoyo Enterprise sejak 2013.
Baca Juga: Foto Harimau Kurus di KBS Viral Lagi, Begini Kondisi Sebenarnya
Saat ini MJE membuka kelas tari mulai tingkat dasar hingga pembina dan pelatih profesional. Materi yang diajarkan meliputi tari, tata rias, penataan rambut, penyajian tari, penciptaan karya tari, hingga pembinaan tari. Sanggar ini juga membuka kelas disabilitas secara gratis dan menerima seluruh jenis disabilitas sebagai bentuk komitmen terhadap seni yang inklusif.
Berbagai penari dan koreografer berprestasi telah lahir dari sanggar tersebut, dengan kiprah mulai tingkat daerah hingga internasional. MJE juga aktif menjalin kolaborasi dengan seniman dari berbagai daerah maupun luar negeri.
Sejumlah negara telah menjadi panggung penampilan MJE, di antaranya Prancis dengan tur ke 25 kota selama tiga bulan, Belanda di 15 kota, Australia, Hong Kong, serta Turki di Ankara, Manisa, dan Istanbul.
Pada 2017 dan 2019, MJE juga menggelar pertunjukan dan workshop di sejumlah sekolah di Selandia Baru serta berkolaborasi dengan Tim Gamelan New Zealand pimpinan Bapak Budi S. Putra hingga tampil di Victoria University of Wellington.
Baca Juga: Bobol Warkop di Merr Gunung Anyar Surabaya, Terekam Gasak Televisi dan Uang Rp 2 Juta
Pimpinan Sanggar Tari Mulyojoyo Enterprise, Sri Mulyani, mengapresiasi kunjungan tim penilai yang dinilai menjadi motivasi bagi para penari muda untuk terus berkarya.
"Kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Elizabeth, Ibu Safrida, Ibu Dian, Ibu Dea, Bapak Luhur, dan Bapak Suryadi.
Kami juga haturkan terima kasih kepada Bapak Fajar dari Bappeda, Bapak Dwi, Bapak Rino, Bapak Rizza Jajuk, Bapak Syahrul dari Disbudporapar Kota Surabaya, dan Bapak Camat Rungkut Surabaya yang telah memberikan dukungan dan fasilitas tempat latihan bagi kami.
Kehadiran Bapak/Ibu menjadi penyemangat besar bagi kami dan anak-anak. Melalui tarian yang kami persembahkan, kami ingin menunjukkan semangat, kekayaan budaya, dan potensi ekonomi kreatif dari Surabaya, khususnya wilayah Medokan Ayu.
Kami berharap kunjungan ini menjadi awal dari sinergi dan dukungan berkelanjutan berupa pembinaan, pelatihan, serta akses pementasan bagi para seniman muda," ujar Sri Mulyani yang juga dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.
Ia menegaskan, MJE akan terus berkomitmen mencetak generasi muda yang berkarakter, kreatif, dan mencintai budaya melalui seni tari. "Dari gerak kami, budaya hidup. Dari budaya kami, generasi berdaya," tutupnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek