Radar Surabaya – Istilah bare minimum semakin sering muncul dalam unggahan maupun kolom komentar di media sosial. Awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan standar dasar yang seharusnya dipenuhi dalam sebuah hubungan. Namun, di kalangan generasi muda, terutama pengguna TikTok, maknanya mulai bergeser dan kerap dipengaruhi oleh konten yang viral.
Banyak pengguna menjadikan konten yang muncul di halaman For You Page (FYP) sebagai acuan dalam menilai kualitas hubungan. Padahal, standar yang ditampilkan di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi nyata dan dapat membentuk ekspektasi yang sulit diwujudkan.
Di TikTok, berbagai konten mengenai hubungan romantis kerap menampilkan tindakan sederhana, seperti memberikan kabar, berkomunikasi secara jujur, atau menghargai privasi pasangan, sebagai bentuk bare minimum. Akibatnya, sebagian orang mulai menganggap perilaku tersebut sebagai tolok ukur utama dalam menilai pasangan.
Ketika hubungan yang dijalani tidak sesuai dengan gambaran dalam video viral, rasa kecewa atau tidak puas pun mudah muncul. Padahal, setiap hubungan memiliki dinamika, kebutuhan, dan cara berkomunikasi yang berbeda.
Fenomena ini juga dapat memunculkan ekspektasi yang kurang realistis. Sebab, konten di media sosial umumnya hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang yang telah dipilih dan disunting, bukan keseluruhan realitas yang dijalani.
Selain itu, terjadi pula pergeseran makna bare minimum. Hal-hal mendasar yang semestinya menjadi bagian dari komitmen dalam hubungan sering kali diperdebatkan dan dijadikan ukuran mutlak, sehingga memicu tekanan emosional, terutama bagi mereka yang belum memiliki kematangan dalam membangun relasi.
Tak sedikit pula yang merasa cemas karena hubungan mereka tidak terlihat "sempurna" seperti yang banyak ditampilkan di media sosial. Padahal, hubungan yang sehat dibangun atas dasar komunikasi, saling menghargai, dan kesepakatan kedua belah pihak, bukan berdasarkan validasi dari konten yang sedang viral.
Karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk menyadari bahwa unggahan di platform digital hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Menjadikan media sosial sebagai referensi tunggal dalam menentukan standar hubungan justru berisiko menimbulkan ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan. (nor/fir)
