RADAR SURABAYA - Pasien yang hidup dengan HIV/AIDS memiliki risiko sangat tinggi mengalami infeksi kandidiasis oral akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.
Selama ini, penanganan medis masih mengandalkan penggunaan obat antijamur konvensional.
Baca Juga: Chia Seed Jadi Superfood Favorit Ini Deretan Manfaatnya untuk Kesehatan
Namun, tantangan baru muncul seiring dengan meningkatnya kasus resistensi atau kekebalan jamur terhadap obat-obatan tersebut.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. dr. Dwi Murtiastutik Sp.DVE Subsp.Ven FINSDV FAADV, meluncurkan inovasi terapi alternatif berbasis senyawa alami.
Baca Juga: Bukan Cuma Lalapan Ini Deretan Manfaat Daun Kemangi untuk Kesehatan
Ia mengusulkan penggunaan senyawa Epigallocatechin Gallate (EGCG) yang diambil dari ekstrak teh hijau sebagai solusi penanganan infeksi tersebut.
Kandidiasis oral dikenal sebagai salah satu jenis infeksi oportunistik yang paling sering menyerang pasien HIV/AIDS akibat lemahnya daya tahan tubuh.
Baca Juga: Gym Jadi Gaya Hidup Baru, Anak Muda Kini Makin Peduli Kesehatan
Dalam praktik medis, penanganan umumnya menggunakan obat antijamur seperti flukonazol. Akan tetapi, Prof. Dwi menyoroti fenomena yang makin mengkhawatirkan, di mana banyak jamur penyebab penyakit mulai kebal dan tidak lagi merespons pengobatan standar tersebut.
Melalui penelitiannya, ia menawarkan senyawa EGCG, yaitu jenis polifenol utama yang terkandung dalam tanaman teh hijau (Camellia sinensis).
Baca Juga: Program CKG Perluas Kesehatan Berkualitas, Deteksi Penyakit Sejak Dini
Senyawa ini dinilai memiliki kemampuan ganda yang sangat menguntungkan, yakni bersifat antimikroba untuk membunuh kuman secara langsung sekaligus berfungsi sebagai pengatur sistem kekebalan tubuh atau imunomodulator.
Mekanisme kerjanya tidak hanya menghambat pertumbuhan jamur, tetapi juga mampu meningkatkan respons pertahanan di lapisan lendir tubuh pasien melalui stimulasi sel Th17.
Baca Juga: Terdakwa Pesta Gay di Surabaya Dituntut Satu Tahun Penjara, Minta Fasilitas Kesehatan di Rutan
“Meningkatnya resistensi terhadap obat antijamur mendorong kami untuk terus mengembangkan terapi alternatif berbasis bahan alami. Senyawa Epigallocatechin Gallate atau EGCG menjadi fokus utama penelitian karena memiliki ragam manfaat, mulai dari efek antioksidan, antiinflamasi, antitumor, hingga yang paling utama adalah kemampuannya sebagai antimikroba yang kuat,” tegas Prof. Dwi, Kamis (14/5).
Keunggulan terapi berbasis EGCG ini sudah dibuktikan melalui serangkaian penelitian mendalam yang dilakukan oleh Prof. Dwi.
Hasil penelitian yang dilakukan sejak tahun 2019 menunjukkan bahwa zat ini memiliki tingkat efektivitas yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan terapi yang biasa digunakan saat ini.
Secara khusus, EGCG terbukti ampuh melawan spesies jamur Candida non-albicans, jenis jamur yang diketahui jauh lebih sulit diobati dibandingkan jenis lainnya.
Perbedaan hasil yang dicapai bahkan dinilai sangat nyata dan bermakna secara statistik.
Selain khasiatnya yang terbukti, inovasi ini memiliki nilai tambah yang sangat besar untuk Indonesia, yaitu terkait ketersediaan bahan baku.
Sebagai negara penghasil teh, pasokan bahan baku untuk mengekstrak senyawa EGCG di Indonesia tersedia dalam jumlah melimpah dan mudah dijangkau.
Hal ini membuat terobosan ilmiah ini dinilai sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk obat yang lebih murah dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
“Berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan, EGCG terbukti secara nyata mampu menghambat pertumbuhan jamur Candida dan mencegah pembentukan lapisan pelindung atau biofilm secara signifikan. Ditambah lagi dengan akses bahan baku teh hijau yang sangat mudah didapat di Indonesia, penelitian ini menjadi dasar kuat bahwa EGCG sangat layak dikembangkan menjadi terapi alternatif utama untuk kandidiasis oral di masa mendatang,” ungkapnya.
Prof. Dwi membagikan filosofi perjuangan yang selalu dipegangnya selama bertahun-tahun dalam meneliti dan mengabdi di dunia kesehatan dan pendidikan.
Ia secara khusus menekankan pentingnya sikap pantang menyerah bagi para mahasiswa dan peneliti muda dalam menghadapi berbagai tantangan, baik itu yang terjadi di ruang akademik maupun saat bertugas langsung di lapangan.
Menurutnya, kegagalan hanyalah bagian dari proses menuju kesuksesan selama kita mau bangkit kembali dan terus berusaha.
“Ibarat orang yang sedang berjalan, lalu jatuh, kemudian berdiri lagi; jatuh lagi, lalu berdiri lagi. Jika dilakukan terus-menerus dan tidak berhenti, lama-lama kita pasti akan sampai ke tujuan yang diinginkan. Jadi kuncinya adalah pantang menyerah, harus tetap semangat, dan jangan pernah merasa putus asa,” pungkasnya. (rmt/vga)