RADAR SURABAYA – Telinga berdenging kerap dikaitkan dengan mitos sedang dibicarakan orang lain. Padahal, dalam dunia medis kondisi tersebut dikenal sebagai tinnitus, yakni munculnya suara tanpa adanya sumber suara dari luar. Suara yang dirasakan penderita pun beragam. Mulai dengingan, desisan, siulan, hingga bunyi bernada tinggi yang muncul terus-menerus di telinga.
Tinnitus bukan penyakit, melainkan gejala yang dapat menandakan adanya gangguan kesehatan tertentu. Kondisi ini perlu diwaspadai jika berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Audiolog klinis sekaligus profesor asosiasi klinis di School of Brain and Behavioral Sciences Universitas Texas di Dallas, Jackie Clark, menyebut tinnitus kronis perlu mendapat perhatian medis karena bisa berkaitan dengan gangguan pendengaran maupun masalah kesehatan lainnya.
Berikut lima penyebab telinga berdenging yang perlu diwaspadai:
- Terlalu sering terpapar suara keras
Paparan kebisingan berlebih menjadi penyebab paling umum tinnitus. Kondisi ini banyak dialami pekerja pabrik, konstruksi, industri musik, hingga personel militer.
Suara keras dapat merusak sel rambut halus di telinga bagian dalam yang berfungsi menangkap suara. Akibatnya, muncul dengingan hingga risiko gangguan pendengaran permanen.
- Penumpukan kotoran telinga
Kotoran telinga yang menumpuk dapat menyumbat saluran telinga dan menekan saraf pendengaran. Kondisi ini memicu sensasi berdenging. Biasanya, tinnitus akibat penyumbatan akan membaik setelah telinga dibersihkan dengan benar.
Baca Juga: Penyakit Gusi Disebut Silent Killer, Picu Diabetes, Komplikasi Kehamilan hingga Stroke
- Hidung tersumbat atau sinus
Flu, pilek, maupun infeksi sinus juga bisa menyebabkan telinga berdenging. Tekanan pada saluran telinga tengah akibat hidung tersumbat dapat memengaruhi saraf pendengaran. Jika dengingan tidak hilang meski flu sudah sembuh, penderita disarankan segera memeriksakan diri ke dokter.
- Kadar gula darah tidak terkontrol
Pada penderita diabetes, tinnitus bisa menjadi tanda awal adanya gangguan saraf atau kerusakan pembuluh darah kecil di telinga bagian dalam. Kadar gula darah yang tidak stabil diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran.
Baca Juga: Program CKG Perluas Kesehatan Berkualitas, Deteksi Penyakit Sejak Dini
- Gangguan sendi rahang
Masalah pada sendi rahang atau temporomandibular joint (TMJ) juga dapat memicu tinnitus. Biasanya kondisi ini disertai nyeri rahang, nyeri wajah, hingga bunyi “klik” saat mengunyah. Letak sendi rahang yang berdekatan dengan telinga membuat gangguan pada area tersebut dapat memengaruhi sistem pendengaran.
Para ahli mengingatkan tinnitus tidak boleh dianggap sepele, terutama jika terjadi terus-menerus. Pemeriksaan medis penting dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti sekaligus mencegah gangguan pendengaran yang lebih serius. (rif/fir)
Editor : M Firman Syah