RADAR SURABAYA - Kampung Jepang di kawasan Jalan Manukan Lor RT 5 RW 1, Banjar Sugihan, Surabaya, menjadi destinasi wisata kampung tematik yang viral di Kota Pahlawan. Mengusung nuansa Negeri Sakura, kampung ini menawarkan beragam spot foto gratis yang ramai dikunjungi masyarakat untuk berwisata hingga membuat konten media sosial.
Ketua Tim Kreatif Kampung Jepang I Komang Sujana mengatakan, ide membangun kampung tematik tersebut bermula saat warga mengikuti lomba antarkampung yang digelar Pemerintah Kota Surabaya pada masa pandemi Covid-19. Karena modal terbatas, ia mengajak warga RT dan RW memanfaatkan barang bekas menjadi karya seni.
Baca Juga: Syaifuddin Zuhri Resmi Nakhodai DPRD Surabaya, Perkuat Sinergi Eksekutif–Legislatif untuk Rakyat
“Lampion yang terpasang di sepanjang RT ini juga dibuat dari pipa air bekas. Hampir semua ornamen di sini berasal dari barang tak terpakai,” ujarnya, Rabu (6/5).
Konsep Jepang dipilih karena terinspirasi dari kendaraan warga yang mayoritas merupakan produk Jepang. Dari sana, Komang melihat peluang untuk menjadikan kampungnya sebagai destinasi wisata produktif yang mampu mendatangkan pengunjung sekaligus meningkatkan perekonomian warga.
“Tujuan saya memang ingin kampung ini menjadi kampung yang menghasilkan. Jadi, bukan hanya indah, tapi juga bisa mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga,” katanya.
Perjuangan warga membangun Kampung Jepang membuahkan hasil. Setelah rutin mengikuti berbagai lomba kampung, mereka berhasil meraih juara tiga dalam ajang Kampung Surabaya Hebat (KSH) dan mendapatkan dana pembinaan Rp 30 juta, yang kemudian digunakan untuk mengembangkan kawasan wisata tersebut.
Baca Juga: Berkunjung ke Graha Pena Surabaya, Bank BRI Tbk dan JPR Makin Pererat Kerja Sama
Kampung Jepang mulai viral pada 2024. Saat itu, dukungan dari berbagai instansi pemerintah turut membantu promosi destinasi tersebut. Dari hanya dua set baju kimono untuk disewakan, warga mampu meraih omzet hampir Rp 17 juta sebulan.
“Waktu awal viral, kami hanya punya dua kimono. Disewakan Rp 25 ribu per baju. Dari situ omzet pernah hampir Rp 17 juta dalam sebulan,” ungkap Komang. (sam)
Editor : Lambertus Hurek