RADAR SURABAYA - Perupa anak-anak tampil memikat dalam pameran lukisan bertajuk Colours of Dream yang digelar di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Pameran ini berlangsung hingga 9 April 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian Pekan Seni Rupa Jatim 2026.
Sebanyak 100 karya lukisan dipamerkan dalam kegiatan ini. Seluruh karya tersebut dibuat oleh sembilan perupa anak yang merupakan siswa di Studio Semut Liar.
Baca Juga: Kabar Baik! Pemkot Buka 1.000 Lowongan Kerja, Prioritaskan Warga Surabaya
Pendiri Studio Semut Liar, Arief Wong, menjelaskan bahwa setiap peserta menampilkan lebih dari sepuluh karya. Namun, tidak semua karya langsung ditampilkan karena sebelumnya melalui proses kurasi.
“Total ada sekitar 100 karya dari sembilan perupa anak. Masing-masing menampilkan lebih dari sepuluh karya. Tetapi semuanya melalui proses seleksi saya. Ada beberapa yang tidak lolos, misalnya, karena mencontoh dari YouTube,” ujar Arief, Senin (6/4).
Menurut dia, pameran ini mengangkat tema Colours of Dream karena setiap anak memiliki warna dan karakter yang berbeda dalam berkarya. Hal itu terlihat dari bentuk, garis, hingga komposisi warna yang digunakan para perupa muda tersebut.
“Anak-anak ini menunjukkan warnanya masing-masing. Keliaran bentuk, garis, dan gambar yang mereka buat bukan plagiat atau mencontoh orang lain. Semuanya murni dari imajinasi mereka sendiri,” jelasnya.
Baca Juga: Rumah Rp 100 Jutaan, Pemkot Surabaya Bangun Rusunami Gen Z Dibangun di Wilayah Strategis
Arief menambahkan, dalam proses berkarya dirinya hanya berperan sebagai pendamping. Ia tidak mengarahkan konsep lukisan, melainkan hanya memberi pemahaman teknik dasar menggambar dan pencampuran warna.
“Saya hanya mendampingi. Ide, konsep, hingga pemilihan warna semuanya dari mereka sendiri. Biasanya terinspirasi dari kehidupan sehari-hari atau apa yang mereka lihat di sekitar,” katanya.
Para peserta pameran berasal dari berbagai jenjang usia. Peserta termuda masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, sedangkan yang paling senior siswa kelas 2 sekolah menengah pertama.
Baca Juga: Unesa Surabaya Siapkan UKT Rendah bagi Pendaftar KIP-K yang Belum Lolos
Proses persiapan pameran ini membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Selama periode tersebut mereka menyempurnakan karya yang sebelumnya telah dipersiapkan.
Arief mengakui bahwa mendampingi perupa anak membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda sehingga pendekatan yang dilakukan juga tidak bisa disamakan.
“Kita harus memahami karakter mereka satu per satu. Dengan begitu anak-anak bisa tetap menikmati proses berkarya dan merasa nyaman saat berekspresi,” ujarnya. (sam)
Editor : Lambertus Hurek