Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Person of The Year Piala Dunia U-17 Selebriti Sidoarjo Sport Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengapa Ramadan dan Takbiran Identik dengan Petasan? 

Nurista Purnamasari • 2026-03-20 21:56:26
Petasan sangat identik dengan Ramadan dan malam takbiran jelang Lebaran. (RADAR SURABAYA)
Petasan sangat identik dengan Ramadan dan malam takbiran jelang Lebaran. (RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Setiap Ramadan hingga malam takbiran, suara dentuman petasan selalu terdengar di berbagai daerah Indonesia. Meski sering menuai kontroversi dan dilarang karena faktor keselamatan, tradisi ini tetap bertahan sebagai bagian dari ekspresi kegembiraan masyarakat menyambut Idul Fitri. 

Petasan bukan sekadar hiburan, melainkan simbol budaya yang memiliki sejarah panjang dan filosofi mendalam.

Sejarah Awal Petasan

Petasan pertama kali ditemukan di Tiongkok pada abad ke-9, ketika bubuk mesiu digunakan untuk menghasilkan ledakan kecil dalam upacara keagamaan dan perayaIsrael

Baca Juga: Idul Fitri di Gaza, Warga Palestina Salat Id di Tengah Puing Serangan Israel

Awalnya, petasan dipercaya mampu mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. Seiring berkembangnya perdagangan, tradisi ini menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara, pada abad ke-15 melalui pedagang Tiongkok.

Di Indonesia, catatan sejarah menunjukkan bahwa petasan sudah digunakan sejak masa Majapahit dalam berbagai pesta rakyat dan ritual keagamaan. 

Ketika Islam mulai berkembang di Jawa melalui dakwah Wali Songo, tradisi petasan kemudian diadaptasi sebagai bagian dari perayaan IdulSurabaya

Baca Juga: Tabrak Tiang PJU dan Pohon, Mobil Terbalik di Jalan Dharmahusada Indah Surabaya

Filosofi dan Makna Petasan

Dalam konteks Islam di Nusantara, dentuman petasan dianggap sebagai simbol kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Suara kerasnya menjadi penanda berakhirnya Ramadan dan datangnya hari raya. 

Di Jawa, istilah “mercon” atau “bedil lepet” digunakan untuk menyebut petasan, yang diyakini juga berfungsi sebagai penolak bala.

Filosofi lain yang melekat adalah kebersamaan. Petasan biasanya dimainkan secara berkelompok, menciptakan suasana meriah dan mempererat hubungan sosial. Meski sederhana, tradisi ini menjadi bagian dari identitas Lebaran di Indonesia.

Baca Juga: BBKK Surabaya Ingatkan Masyarakat Waspada Penyakit Menular Seperti Campak dan TB Saat Mudik Lebaran

Seiring waktu, petasan semakin identik dengan Ramadan dan malam takbiran. Anak-anak hingga orang dewasa menjadikannya hiburan, meski pemerintah sering mengimbau agar penggunaannya dibatasi demi keselamatan. 

Di kota-kota besar, tradisi ini berkembang menjadi pesta kembang api yang lebih aman dan terkontrol.

Petasan kini bukan sekadar permainan, tetapi simbol ekspresi kegembiraan masyarakat. Tradisi ini sudah ada sejak Majapahit dan terus beradaptasi dengan budaya Islam di Nusantara.

Meski kini sering diperdebatkan karena faktor keselamatan, dentuman petasan tetap menjadi suara khas yang menandai datangnya Lebaran. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#bedil lepet #Tiongkok #mercon #tradisi #wali songo #lebaran #petasan