RADAR SURABAYA - Hari ini, Jumat (20/3), masyarakat Indonesia dapat menyaksikan fenomena astronomi ekuinoks Maret, ketika Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa.
Peristiwa ini membuat penyinaran terasa lebih maksimal di wilayah tropis, termasuk Indonesia, dan menjadi momen langka yang selalu dinantikan para pengamat langit.
Menurut penjelasan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ekuinoks terjadi ketika posisi sumbu rotasi Bumi tegak lurus terhadap arah sinar Matahari.
“Fenomena ini membuat panjang siang dan malam hampir sama di seluruh dunia, meski tidak persis 12 jam karena dipengaruhi refraksi atmosfer,” dikutip dari laman Edukasi Sains dan Antariksa BRIN.
Fakta Menarik Ekuinoks
- Asal kata: Ekuinoks berasal dari bahasa Latin equinoctis, yang berarti “malam yang sama”.
- Hari tanpa bayangan: Di Pontianak, Kalimantan Barat, bayangan benda tegak menghilang sesaat karena Matahari berada di titik zenith.
- Durasi siang dan malam sama: Siang dan malam nyaris seimbang di seluruh dunia.
- Terjadi dua kali setahun: Setiap Maret dan September, menandai pergantian musim di belahan Bumi utara dan selatan.
- Tradisi kuno: Sejak ribuan tahun lalu, ekuinoks dimasukkan dalam tradisi budaya dan agama, termasuk di Jepang yang menjadikannya hari libur nasional.
Fenomena ini juga menjadi penanda perubahan musim di Indonesia. Ekuinoks Maret menandai peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sementara ekuinoks September menandai peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Konteks Budaya
Fenomena ekuinoks tidak hanya penting secara ilmiah, tetapi juga memiliki makna budaya. Di Kamboja, misalnya, Matahari saat ekuinoks terbit tepat di atas candi pusat Angkor Wat.
Hal ini menunjukkan bagaimana peradaban kuno memanfaatkan pergerakan Matahari untuk menentukan musim dan aktivitas pertanian. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari