RADAR SURABAYA - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat sekitar 4,79 persen keluarga di Indonesia mengalami konflik cerai hidup.
Kondisi ini memicu meningkatnya fenomena broken home atau disfungsi keluarga yang berdampak luas, terutama pada kesehatan mental anak.
Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Atika Dian Ariana MSc MPsi, menekankan pentingnya peran orang tua dalam menjaga kesejahteraan psikologis anak meski keluarga sedang menghadapi konflik.
“Broken home muncul akibat konflik tinggi yang menyebabkan keluarga tidak lagi berfungsi optimal. Dampaknya signifikan bagi semua anggota keluarga, khususnya anak,” ujarnya, Selasa (17/3).
Atika menjelaskan, anak dari keluarga broken home sering menunjukkan perubahan perilaku sehari-hari.
Mereka cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan rasa percaya diri, hingga mengalami penurunan prestasi akademik.
“Gejala yang sering muncul adalah kemarahan, kecemasan, atau ketakutan berlebih. Hal ini terjadi karena krisis kepercayaan yang seharusnya terbentuk dalam keluarga,” tambahnya.
Menurut Atika, ada dua kondisi yang mengharuskan anak mendapatkan bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
Pertama, ketika perubahan perilaku semakin memburuk secara signifikan. Kedua, ketika keluarga tidak mampu memberikan dukungan emosional atau komunikasi sehat, terutama jika terdapat unsur kekerasan.
“Dalam kondisi tersebut, anak sebaiknya ditempatkan di lingkungan yang lebih aman dan mendapatkan pendampingan kesehatan mental dari tenaga profesional,” jelasnya.
Meski begitu, tidak semua anak dari keluarga broken home mengalami gangguan psikologis. Atika menegaskan bahwa peran orang tua tetap menjadi faktor penentu.
“Komunikasi yang terbuka dapat menjadi jembatan untuk membantu anak menyalurkan emosinya. Pendampingan yang konsisten juga membuat anak tidak merasa terasingkan,” paparnya.
Baca Juga: Fantastis! Pendapatan Tampil di Liga Champions Tembus Rp2,3 Triliun, Ini Rincian Lengkap Hadiahnya
Ia juga menekankan pentingnya memahami tingkat kematangan anak. Anak kecil membutuhkan pendampingan lebih intensif, sementara anak yang lebih dewasa dapat dibantu melalui komunikasi terbuka dan dukungan emosional.
Di akhir, Atika mengingatkan bahwa anak bukanlah penyebab konflik keluarga. “Konflik terjadi antara orang dewasa. Karena itu, anak sebaiknya tetap fokus pada tujuan dan cita-citanya. Apa yang terjadi dalam keluarga saat ini tidak menentukan masa depan mereka,” pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari