RADAR SURABAYA – Di era digital yang serba cepat, Generasi Z tumbuh dengan akses informasi yang hampir tanpa batas. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin sering dirasakan anak muda, yakni overthinking atau kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan.
Banyak Gen Z terjebak dalam siklus pemikiran yang terlalu rumit. Mereka terus memikirkan berbagai kemungkinan, mempertimbangkan banyak hal sekaligus, hingga akhirnya merasa ragu dan sulit mengambil keputusan.
Baca Juga: Silent Walking, Tren Sederhana Gen Z untuk Jaga Kesehatan Mental
Pendiri Health Collaborative Center, Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan bahwa overthinking pada dasarnya hanya terjadi di dalam pikiran. Berdasarkan sejumlah penelitian, sebagian besar hal yang dikhawatirkan sebenarnya tidak pernah terjadi.
“Perlu diingat, sekitar 85 persen hal yang dipikirkan secara berlebihan tidak akan benar-benar terjadi dalam enam bulan ke depan. Karena itu, sebaiknya tidak terlalu larut dalam overthinking,” ujarnya.
Baca Juga: Gen Z Ubah Peta Dunia Kerja, Freelance Jadi Pilihan Utama
Jika dibiarkan berlarut-larut, kebiasaan overthinking dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Kondisi ini berpotensi memicu Gangguan Kecemasan, gangguan tidur, menurunnya kemampuan berkonsentrasi, hingga membuat seseorang cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.
Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa kebiasaan berpikir berlebihan juga dapat meningkatkan risiko Depresi.
Tak hanya itu, overthinking juga dapat melemahkan rasa percaya diri. Orang yang sering terjebak dalam pikiran berlebihan biasanya lebih mudah meragukan kemampuan diri, merasa takut mengambil keputusan, serta kesulitan menjalani aktivitas dengan perasaan tenang.
Baca Juga: Tren Modest Cheongsam Jadi Gaya Favorit Gen Z di Bulan Ramadan dan Lebaran
Karena itu, penting untuk memahami bahwa overthinking bukanlah persoalan sepele. Kebiasaan ini tidak seharusnya dianggap lucu, dibanggakan, ataupun diabaikan. Menyadari adanya masalah merupakan langkah awal yang penting untuk mulai mengatasinya.
Selain itu, anak muda juga membutuhkan ruang diskusi yang sehat agar dapat berbagi cerita tanpa rasa takut dihakimi.
Dukungan dari lingkungan, seperti keluarga, sekolah, dan komunitas, dinilai sangat penting agar pembicaraan tentang perasaan dan tekanan hidup dapat berlangsung secara terbuka. Di samping itu, menerapkan pola hidup sehat seperti istirahat yang cukup, membatasi penggunaan media sosial, mengonsumsi makanan bergizi, serta rutin berolahraga juga dapat membantu menjaga kestabilan emosi. (rra/fir)
Editor : M Firman Syah