Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Toxic Positivity, Saat Sikap “Selalu Positif” Justru Melukai

Muhammad Firman Syah • Senin, 2 Maret 2026 | 04:14 WIB

Toxic positivity memaksa senyum palsu, padahal emosi negatif perlu diakui dan dipahami.
Toxic positivity memaksa senyum palsu, padahal emosi negatif perlu diakui dan dipahami.

RADAR SURABAYA — Ajakan untuk selalu berpikir positif kerap dianggap sebagai bentuk dukungan moral. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, istilah toxic positivity muncul untuk menggambarkan sisi lain dari dorongan tersebut. Istilah ini merujuk pada sikap memaksakan pikiran positif secara berlebihan hingga menolak emosi negatif, padahal emosi tersebut wajar dan manusiawi.

Fenomena ini banyak dibahas oleh psikolog asal Amerika Serikat, Susan David, penulis buku Emotional Agility. Dalam berbagai wawancara dan tulisannya, ia menekankan pentingnya menerima seluruh spektrum emosi manusia.

“Discomfort is the price of admission to a meaningful life,” ujarnya. Ketidaknyamanan emosional, menurut David, bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari kehidupan yang bermakna.

Baca Juga: Tren Percintaan Gen Z, Terlihat Romantis tapi Sebenarnya Toxic dan Manipulatif

Toxic positivity kerap muncul dalam kalimat seperti “Tetap semangat!”, “Jangan sedih!”, atau “Semua pasti ada hikmahnya.” Sekilas terdengar suportif, namun respons semacam ini bisa membuat seseorang merasa tidak dipahami. Alih-alih mendapatkan validasi, individu justru merasa emosinya diabaikan.

Menurut David, emosi negatif bukan musuh yang harus dilawan. “Emotions are data, not directives,” katanya. Emosi merupakan informasi yang memberi tahu tentang kebutuhan, nilai, dan batasan diri. Ketika rasa sedih, marah, atau kecewa terus ditekan demi terlihat kuat, seseorang kehilangan kesempatan untuk memahami dirinya secara lebih mendalam.

Baca Juga: Kenali Tanda Toxic Relationship dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Dalam konteks sosial, toxic positivity juga muncul karena ketidaknyamanan orang lain menghadapi emosi negatif. Banyak yang tidak tahu bagaimana merespons kesedihan atau kecemasan, sehingga memilih jalan pintas berupa kalimat penyemangat. Padahal, dukungan emosional yang efektif tidak selalu tentang solusi, melainkan tentang hadir dan mendengarkan.

David menegaskan, fleksibilitas emosional menjadi kunci kesehatan mental. “Courage is not an absence of fear; courage is fear walking,” ungkapnya. Keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, tetapi tetap melangkah sambil mengakui emosi yang ada.

Baca Juga: 7 Tips Efektif Menjauh dari Lingkungan Toxic

Para pakar kesehatan mental pun mengingatkan pentingnya membedakan optimisme sehat dan toxic positivity. Optimisme sehat tetap mengakui adanya kesulitan, sedangkan toxic positivity menolak emosi yang tidak menyenangkan. Mengatakan, “Aku tahu ini berat untukmu, dan itu wajar,” sering kali lebih bermakna dibanding sekadar, “Santai saja.”

Meningkatnya kesadaran kesehatan mental, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda, membuat diskusi mengenai toxic positivity semakin relevan. Mengizinkan diri merasakan emosi secara utuh bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses bertumbuh. (sry/fir)

Editor : M Firman Syah
#psikolog #generasi muda #emosi #toxic positivity #suportif