RADAR SURABAYA — Aktivitas forest bathing kian diminati sebagai alternatif menjaga kesehatan mental. Metode ini pertama kali diperkenalkan di Jepang pada 1980-an dengan istilah shinrin-yoku, yang berarti “mandi hutan” atau menikmati suasana alam menggunakan seluruh indra.
Konsepnya sederhana. Seseorang berjalan santai di ruang terbuka hijau tanpa terburu-buru. Fokus diarahkan pada suara burung, hembusan angin, aroma pepohonan, serta sensasi udara segar. Pendekatan ini dinilai efektif meredakan tekanan akibat rutinitas kerja dan hiruk-pikuk perkotaan.
Baca Juga: Bunga Segar Masih Jadi Primadona Termasuk di Surabaya, Tren Florist 2026 Mengarah ke Alam
Sejumlah studi menunjukkan aktivitas ini berkontribusi menurunkan tekanan darah, kadar hormon stres, serta tingkat kecemasan. Selain itu, kualitas tidur dan suasana hati juga dilaporkan membaik setelah rutin menghabiskan waktu di alam.
Udara hutan mengandung senyawa alami dari tumbuhan yang dikenal sebagai phytoncide. Zat ini diyakini membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh sekaligus mengurangi kelelahan mental.
Penelitian di United Kingdom menemukan, menghabiskan waktu minimal 120 menit per minggu di alam berkaitan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan di hutan lebat. Taman kota, hutan wisata, hingga ruang terbuka hijau di sekitar tempat tinggal dapat menjadi pilihan.
Baca Juga: Desa Wisata dan Destinasi Alam Masih Jadi Favorit Wisatawan saat Berkunjung ke Jatim
Untuk mendapatkan manfaat optimal, disarankan berjalan tanpa distraksi gawai. Biarkan pikiran fokus pada pengalaman sensorik yang dirasakan. Dengan cara itu, tubuh dan pikiran dapat beristirahat dari tekanan digital maupun beban pekerjaan.
Menjaga kesehatan mental tidak selalu membutuhkan biaya besar. Meluangkan waktu secara rutin di alam dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga keseimbangan emosi dan kebugaran tubuh. (rif/fir)
Editor : M Firman Syah