Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengajarkan Puasa pada Anak Secara Psikologis: Bertahap, Positif, Tanpa Ancaman

Muhammad Firman Syah • Rabu, 11 Februari 2026 | 12:25 WIB

Kebersamaan keluarga mengajarkan puasa pada anak dengan hangat tanpa tekanan.
Kebersamaan keluarga mengajarkan puasa pada anak dengan hangat tanpa tekanan.

RADAR SURABAYA — Mengajarkan puasa pada anak tidak cukup hanya dengan menekankan kewajiban agama. Pendekatan yang terlalu keras, terlebih disertai ancaman dosa atau neraka, justru berisiko menimbulkan kecemasan dan penolakan. Para ahli psikologi perkembangan menilai, pembiasaan ibadah pada anak sebaiknya dilakukan secara bertahap, positif, dan sesuai tahap usia agar nilai spiritual tumbuh dari kesadaran, bukan ketakutan.

Secara psikologis, anak belum memiliki kontrol diri dan regulasi emosi sekuat orang dewasa. Mereka masih belajar mengelola rasa lapar, lelah, serta dorongan impulsif. Karena itu, puasa perlu dikenalkan sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bermakna, bukan sebagai beban.

Baca Juga: Puncak Musim Hujan, Selama Bulan Puasa hingga Lebaran mendatang Diprediksi Hujan Hampir Setiap Hari

Psikolog aliran behaviorisme B.F. Skinner menekankan bahwa perilaku anak dibentuk oleh konsekuensi yang diterimanya. “Behavior is shaped and maintained by its consequences,” ujarnya. Artinya, ketika puasa dikaitkan dengan pengalaman positif—seperti pujian, kebersamaan keluarga saat sahur dan berbuka, atau penghargaan kecil—anak akan lebih termotivasi untuk mengulang perilaku tersebut.

Sebaliknya, pendekatan berbasis rasa takut dinilai kurang efektif dalam jangka panjang. Pakar pendidikan anak Alfie Kohn mengingatkan, “When we rely on fear and control, we don’t teach values, we teach compliance.” Anak mungkin patuh, namun tidak memahami makna ibadah yang dijalani.

Pengenalan puasa dapat dimulai sejak usia dini melalui tahapan sederhana. Pada usia 5–7 tahun, anak cukup diajak berpuasa setengah hari atau beberapa jam. Fokus utamanya adalah pengalaman, seperti bangun sahur bersama keluarga, menyiapkan takjil, atau berbagi makanan. Cara ini membantu membangun asosiasi bahwa puasa merupakan momen hangat dan menyenangkan.

Baca Juga: Jelang Bulan Puasa, Harga Minyak Goreng di Jatim Naik, MinyaKita Masih di Atas HET

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pendidikan Maria Montessori yang menekankan pentingnya mengikuti kesiapan anak, bukan memaksakan tuntutan orang dewasa.

Memasuki usia 7–10 tahun, durasi puasa dapat diperpanjang secara bertahap. Pada fase ini, anak mulai dilatih disiplin dan pengendalian diri. Orang tua dianjurkan memberi apresiasi pada usaha, bukan semata hasil. Kalimat seperti “Kamu hebat sudah mencoba sampai siang” dinilai lebih membangun dibanding teguran atau ancaman.

Latihan menunda keinginan (delay of gratification) pada tahap ini, menurut berbagai penelitian, membantu anak mengembangkan kontrol diri dan ketahanan emosi. Kemampuan tersebut berdampak positif pada prestasi akademik, relasi sosial, hingga kesehatan mental.

Baca Juga: Sejarah dan Filosofi Kuliner Kolak yang Identik dengan Bulan Puasa

Sementara itu, pada usia 10 tahun ke atas, anak mulai mampu berpikir lebih abstrak. Orang tua dapat menjelaskan makna puasa secara reflektif, seperti menumbuhkan empati kepada sesama dan melatih kesabaran. Diskusi dua arah dinilai lebih efektif dibanding ceramah satu arah.

Dengan pendekatan bertahap dan penuh empati, puasa tidak lagi dipahami sebagai kewajiban yang menakutkan, melainkan sebagai latihan karakter. Nilai disiplin, syukur, kepedulian sosial, dan pengendalian diri pun dapat tumbuh secara alami. (sry/fir)

Editor : M Firman Syah
#keluarga #parenting #psikologi anak #Pendidikan Anak #puasa ramadan