Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Waspadai Hidden Hunger Sejak Dini

Muhammad Firman Syah • Selasa, 10 Februari 2026 | 15:47 WIB

Hidden Hunger: Masalah kelaparan tersembunyi yang mengintai anak-anak.
Hidden Hunger: Masalah kelaparan tersembunyi yang mengintai anak-anak.

RADAR SURABAYA – Anak yang terlihat gemuk, aktif, dan lahap makan kerap dianggap sebagai gambaran anak sehat. Selama berat badannya normal dan tidak tampak sakit, banyak orang tua merasa kebutuhan gizi anak sudah tercukupi. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Di balik kondisi fisik yang tampak sehat, anak bisa saja mengalami hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Kondisi ini terjadi ketika anak kekurangan mikronutrien penting, meski asupan makanan terlihat cukup bahkan berlebih.

Dokter Spesialis Anak dr. Mesty Ariotedjo menjelaskan, hidden hunger kerap luput dari perhatian karena masih kuatnya persepsi bahwa anak gemuk identik dengan anak sehat. Prinsip “yang penting anak mau makan” sering diterapkan tanpa mempertimbangkan kualitas makanan yang dikonsumsi.

Baca Juga: Peringati Hari Gizi Nasional, BRI Peduli Perkuat Upaya Pencegahan Stunting di Berbagai Wilayah

“Anak bisa makan banyak, tetapi makanannya rendah vitamin dan mineral. Akhirnya berat badannya normal atau berlebih, tapi kebutuhan mikronutriennya tidak terpenuhi,” ujarnya.

Dalam kondisi hidden hunger, anak kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral yang berperan penting dalam tumbuh kembang. Akibatnya, risiko gangguan perkembangan tetap ada meski secara kasat mata anak tampak sehat.

Dua mikronutrien yang paling sering kurang pada anak adalah vitamin D dan zat besi. Vitamin D berperan dalam menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan tulang. Sementara zat besi penting untuk pembentukan sel darah merah dan perkembangan otak.

Mesty menambahkan, tidak sedikit anak dengan berat badan berlebih justru mengalami defisiensi zat besi setelah dilakukan pemeriksaan medis.
“Banyak pasien saya yang terlihat gemuk dan sehat, tetapi setelah dicek, kadar zat besinya rendah,” ungkapnya.

Baca Juga: Pastikan Gizi dan Keamanan Menu MBG di Surabaya, Sidokkes Polres Pelabuhan Tanjung Perak Uji Food Safety di SPPG

Selain itu, kekurangan mikronutrien lain seperti zinc juga berkaitan erat dengan pembentukan jaringan saraf otak. Zat-zat tersebut berperan dalam kemampuan belajar, konsentrasi, dan daya pikir anak.

Berbeda dengan kekurangan energi yang biasanya ditandai penurunan berat badan, defisiensi mikronutrien sering kali tidak menunjukkan tanda fisik yang jelas.
“Kalau anak kurang makan, berat badannya bisa turun. Kalau kurang mikronutrien, tidak kelihatan dari fisiknya, tapi berdampak pada kecerdasannya,” imbuh Mesty.

Baca Juga: Gen Z di Era Serba Instan, Tantangan Menjaga Gizi Seimbang agar Tetap Sehat dan Produktif

Karena itu, hidden hunger perlu diwaspadai sejak dini. Kekurangan mikronutrien dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak, terutama pada dua tahun pertama kehidupan. Pada fase emas ini, asupan nutrisi dan stimulasi memiliki peran besar dalam menentukan kecerdasan anak, bahkan melampaui faktor genetik.

Pemenuhan gizi seimbang sejak dini menjadi investasi jangka panjang. Anak dengan asupan gizi optimal memiliki peluang lebih besar tumbuh sehat, cerdas, dan mampu berpikir kritis di masa depan. (shf/fir)

Editor : M Firman Syah
#hidden hunger #edukasi orang tua #gizi anak #Tumbuh KEmbang Anak #kesehatan anak