Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengenal Sedentary Lifestyle dan Dampaknya bagi Kesehatan

Muhammad Firman Syah • Senin, 9 Februari 2026 | 20:53 WIB

Sedentary Lifestyle: Gaya hidup pasif yang memunculkan risiko penyakit.
Sedentary Lifestyle: Gaya hidup pasif yang memunculkan risiko penyakit.

RADAR SURABAYA – Gaya hidup modern yang kian bergantung pada teknologi tanpa disadari mengubah kebiasaan sehari-hari masyarakat. Beragam aktivitas kini dilakukan dengan lebih banyak duduk dalam waktu lama. Mulai dari bekerja di depan komputer, menatap layar gawai, hingga bersantai tanpa banyak bergerak.

Pola hidup tersebut dikenal sebagai sedentary lifestyle atau gaya hidup pasif. Kondisi ini ditandai dengan minimnya aktivitas fisik, sementara sebagian besar waktu dihabiskan dengan duduk atau berbaring. Gaya hidup sedenter kini semakin umum seiring kemajuan teknologi, pola makan tinggi lemak dan gula, serta kurangnya aktivitas gerak.

Baca Juga: Fisiologi Lifestyle Bantu Kenali Respons Tubuh terhadap Pola Hidup Modern

Jika berlangsung terus-menerus, gaya hidup sedenter berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan. Kurangnya aktivitas fisik membuat pembakaran kalori tidak optimal sehingga meningkatkan risiko obesitas. Selain itu, kondisi ini juga berkaitan dengan munculnya penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.

Dalam jangka panjang, kebiasaan hidup pasif dapat memicu peradangan dan merusak pembuluh darah. Kondisi tersebut berisiko berkembang menjadi penyakit jantung koroner.

Baca Juga: Generasi Z Tolak Budaya Hustle, Work-Life Balance Jadi Standar Baru di Perusahaan

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi Mayapada Hospital Tangerang, dr Aron Husink, menyebut pola makan tidak sehat yang dibarengi kurangnya aktivitas fisik memperbesar risiko gangguan pembuluh darah.

“Pola makan yang tidak sehat serta kurangnya menjalani aktivitas fisik, dapat memunculkan risiko peningkatan kadar kolestrol jahat yang kemudian menumpuk pada dinding pembuluh darah yang rusak. Akumulasi ini membentuk plak (aterosklerosis) yang menyempitkan pembuluh darah, dan akhirnya menyebabkan Penyakit Jantung Koroner,” ujar Aron.

Baca Juga: Fisiologi Lifestyle Bantu Kenali Respons Tubuh terhadap Pola Hidup Modern

Serangan jantung umumnya ditandai nyeri dada seperti ditekan atau diremas. Nyeri dapat menjalar ke lengan kiri, bahu, leher, rahang, hingga punggung. Gejala lain yang sering menyertai antara lain sesak napas, keringat dingin, mual, muntah, dan pusing. Saat gejala muncul, respons cepat sangat diperlukan, seperti duduk tegak, melonggarkan pakaian, serta segera mencari pertolongan medis.

Untuk menekan risiko penyakit akibat gaya hidup sedenter, masyarakat dianjurkan mulai menerapkan pola hidup lebih aktif. Langkah sederhana seperti rutin berjalan kaki, melakukan peregangan di sela waktu duduk, berolahraga teratur, serta mengatur pola makan seimbang dinilai efektif menjaga kesehatan. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menekan risiko penyakit jantung dan meningkatkan kualitas hidup jangka panjang. (shf/fir)

Editor : M Firman Syah
#gaya hidup pasif #sedentary #kesehatan #lifestyle #teknologi