Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

7 Ciri Seseorang Memiliki Empati Tinggi Menurut Psikolog Carl Rogers

Muhammad Firman Syah • Minggu, 1 Februari 2026 | 13:48 WIB

Empati : Ilustrasi Menggambarkan Bentuk Empati dan Dukungan Emosional.
Empati : Ilustrasi Menggambarkan Bentuk Empati dan Dukungan Emosional.

Radar Surabaya — Empati kerap dipahami sebagai kepedulian terhadap perasaan orang lain. Namun, dalam kajian psikologi, empati memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Psikolog humanistik Carl Rogers menempatkan empati sebagai fondasi utama dalam membangun hubungan manusia yang sehat, baik dalam konteks konseling, pendidikan, maupun kehidupan sosial sehari-hari.

Rogers menegaskan bahwa empati bukan sekadar rasa iba atau simpati. Dalam bukunya On Becoming a Person (1961), ia mendefinisikan empati sebagai kemampuan memahami dunia batin orang lain secara akurat, termasuk emosi dan makna yang menyertainya, tanpa kehilangan kesadaran diri. Menurut Rogers, empati berarti mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain seolah-olah berada di posisi mereka, namun tetap menjaga jarak emosional.

Baca Juga: Burnout Digital Kian Marak, Psikolog Soroti Kelelahan Regulasi Diri Akibat Paparan Layar

Berdasarkan gagasan tersebut, terdapat tujuh ciri utama yang menandakan seseorang memiliki empati tinggi menurut Carl Rogers.

Pertama, mampu memahami perasaan orang lain dari sudut pandang mereka, bukan dari penilaian pribadi. Individu dengan empati tinggi berusaha melihat realitas sebagaimana dialami orang lain, bukan sebagaimana seharusnya menurut dirinya sendiri.

Kedua, mampu menempatkan diri “seolah-olah” berada di posisi orang lain tanpa larut secara emosional. Rogers menekankan pentingnya menjaga batas psikologis agar empati tidak berubah menjadi beban emosional.

Ketiga, memiliki kemampuan mendengarkan secara aktif. Mendengarkan, menurut Rogers, tidak hanya sekadar menyimak kata-kata, tetapi juga menangkap makna dan emosi yang tersembunyi di balik ucapan.

Baca Juga: Melawan Dehumanisasi Anak-Anak Surabaya Melalui Kuas di Pameran Seni Nasional, Pesan Empati dari ArtEduCare#15

Keempat, tidak menghakimi atau mengevaluasi pengalaman orang lain. Dalam tulisannya The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic Personality Change (1957), Rogers menyebut empati hanya dapat hadir ketika seseorang terbebas dari sikap menghakimi.

Kelima, peka terhadap emosi yang tidak diungkapkan secara langsung. Orang dengan empati tinggi mampu merasakan kegelisahan, kesedihan, atau ketakutan yang belum sepenuhnya terartikulasi.

Keenam, mampu mengomunikasikan kembali pemahaman tersebut. Empati sejati, menurut Rogers, terlihat ketika seseorang dapat merefleksikan perasaan orang lain secara akurat sehingga mereka merasa benar-benar dipahami.

Ketujuh, menciptakan rasa aman secara psikologis. Empati berjalan beriringan dengan konsep unconditional positive regard, yakni penerimaan tanpa syarat terhadap individu lain.

Baca Juga: Anak Usia 2 Tahun Belum Lancar Bicara, Psikolog Ungkap Pengaruh Gadget pada Speech Delay

Rogers menegaskan bahwa empati bukanlah sifat bawaan semata, melainkan keterampilan yang dapat dilatih. Dalam bukunya A Way of Being (1980), ia menulis bahwa didengarkan secara tulus tanpa dihakimi memberikan dampak psikologis yang sangat kuat bagi seseorang.

Di tengah masyarakat modern yang sarat tekanan dan konflik, pemahaman empati ala Carl Rogers dinilai semakin relevan. Empati tidak hanya memperkuat relasi personal, tetapi juga menjadi dasar etika sosial yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan nilai kemanusiaan. (sry/fir)

Editor : M Firman Syah
#psikolog #empati #komunikasi #emosi #perasaan