Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Burnout Digital Kian Marak, Psikolog Soroti Kelelahan Regulasi Diri Akibat Paparan Layar

Muhammad Firman Syah • Senin, 26 Januari 2026 | 14:21 WIB

Ilustrasi burnout yang disebabkan paparan berlebihan digital .
Ilustrasi burnout yang disebabkan paparan berlebihan digital .

Radar Surabaya - Fenomena kelelahan mental tak lagi semata dipicu tekanan kerja atau aktivitas fisik berat. Memasuki 2026, para psikolog mencermati tren baru, burnout digital. Kondisi ini ditandai kelelahan emosional dan kognitif akibat paparan teknologi serta banjir informasi yang nyaris tanpa jeda dalam kehidupan sehari-hari.

Pemicu utamanya adalah kebiasaan masyarakat yang hampir tak pernah lepas dari gawai. Media sosial, aplikasi pesan instan, hingga tuntutan untuk selalu responsif menciptakan tekanan psikologis yang kerap luput disadari. Aktivitas seperti doomscrolling, multitasking daring, hingga konsumsi informasi tanpa henti membuat seseorang merasa lelah, meski nyaris tanpa aktivitas fisik.

Baca Juga: Dari Self-Care ke Tanda Burnout, Mengenal Fenomena Bed Rotting di Kalangan Anak Muda

Fenomena tersebut dijelaskan dalam teori Self-Regulation yang dikembangkan psikolog sosial Roy F. Baumeister dan Kathleen D. Vohs. Teori ini menyebutkan bahwa kemampuan manusia untuk mengendalikan pikiran, emosi, dan perilaku bersifat terbatas.

Baumeister mengibaratkan pengendalian diri seperti otot yang bisa lelah jika terus digunakan. “Self-control works like a muscle. It can become fatigued after use,” kata Baumeister. Ketika energi mental terkuras akibat tuntutan pengendalian diri yang berlebihan, kondisi itu dikenal sebagai ego depletion.

Vohs menambahkan, kelelahan regulasi diri kerap muncul dalam situasi modern yang sarat distraksi. “When people are forced to constantly regulate their attention and behavior, their capacity for self-regulation temporarily diminishes,” ujarnya. Dalam ekosistem digital, notifikasi tanpa henti dan keharusan berpindah fokus mempercepat kelelahan tersebut.

Baca Juga: Friendship Burnout, Tanda Kamu Butuh Batasan dalam Persahabatan

Akibatnya, burnout digital sering disalahartikan sebagai kemalasan atau kurang motivasi. Padahal, para ahli menilai kondisi ini merupakan respons normal sistem psikologis terhadap stimulus berlebihan. Dampaknya antara lain penurunan konsentrasi, emosi yang mudah tersulut, gangguan tidur, hingga rasa hampa dan sinisme dalam aktivitas harian.

Memasuki awal 2026, diskursus kesehatan mental semakin menekankan pentingnya pemulihan mental, tak kalah dari pemulihan fisik. Konsep seperti digital boundaries dan intentional disengagement mulai diperkenalkan sebagai cara memulihkan kemampuan regulasi diri. Intinya, jeda dari layar bukan kemewahan, melainkan kebutuhan.

Baca Juga: Fenomena Hustle Culture, Gen Z Rentan Burnout dan Penyakit Serius

Burnout digital dinilai kian relevan bagi generasi muda yang tumbuh di tengah konektivitas tanpa henti. Para psikolog menegaskan, meminta individu untuk “lebih kuat” secara mental bukan solusi tunggal. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif dan perubahan budaya produktivitas di era digital yang serba cepat. (sry/fir)

Editor : M Firman Syah
#burnout #Emosional #Doomscrolling #burnout digital