Radar Surabaya — Seiring bertambahnya usia, kelompok lanjut usia (lansia) tidak hanya menghadapi penurunan kondisi fisik, tetapi juga berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi ini dapat memengaruhi emosi, pikiran, dan perilaku, serta berdampak pada kualitas hidup lansia maupun keluarga di sekitarnya.
Jenis Gangguan Mental yang Umum Dialami Lansia
Beberapa jenis gangguan kejiwaan kerap muncul pada lansia, antara lain depresi, yaitu perasaan sedih berkepanjangan disertai hilangnya minat terhadap aktivitas sehari-hari.
Gangguan kecemasan, ditandai dengan rasa cemas berlebihan yang sulit dikendalikan.
Bipolar disorder, yang memunculkan perubahan suasana hati ekstrem antara mania dan depresi.
Skizofrenia, ditandai dengan kesulitan membedakan kenyataan dari halusinasi atau delusi.
Depresi menjadi gangguan mental paling umum pada lansia, dengan prevalensi 6,5 persen pada usia 55–64 tahun, 8 persen pada usia 65–74 tahun, dan 8,9 persen pada usia di atas 75 tahun.
Tanda-tanda gangguan mental pada lansia dapat berbeda-beda tergantung pada jenis gangguan yang dialami. Pada kasus depresi, gejala yang umum muncul meliputi perubahan kepribadian, gangguan daya ingat, nyeri otot, kelelahan, kehilangan nafsu makan, insomnia, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga munculnya pikiran bunuh diri.
Sementara itu, gangguan kecemasan ditandai dengan rasa gelisah, detak jantung cepat, keringat berlebih, napas memburu, gangguan pencernaan, dan kesulitan tidur. Adapun skizofrenia sering kali memunculkan gejala berupa delusi, halusinasi, bicara tidak jelas, gerakan tubuh yang lambat, serta kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.
Sedangkan pada gangguan bipolar, penderita biasanya menunjukkan kombinasi antara gejala depresi dan episode mania atau hipomania, yang ditandai dengan energi tinggi dan perilaku impulsif.
Keluarga maupun pengasuh disarankan segera berkonsultasi dengan dokter apabila menemukan perubahan suasana hati atau perilaku yang signifikan pada lansia.
Penyebab pasti gangguan mental pada lansia belum sepenuhnya diketahui, namun sejumlah faktor diduga berperan. Di antaranya adalah ketidakseimbangan fungsi dan senyawa kimia otak, faktor genetik atau riwayat keluarga dengan gangguan mental, serta efek samping obat atau penyakit kronis seperti jantung, diabetes, atau gangguan tiroid.
Faktor risiko tambahan yang turut memicu gangguan mental meliputi trauma atau pelecehan di masa lalu, stres akibat kehilangan orang terdekat, penyakit kronis, masalah finansial, penyalahgunaan obat dan alkohol, serta kepribadian yang cenderung pesimis atau memiliki harga diri rendah.
Apabila tidak segera ditangani, gangguan mental dapat menimbulkan berbagai dampak serius. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan kualitas hidup dan gangguan hubungan sosial, memperburuk kondisi fisik atau memicu penyakit penyerta seperti gangguan pencernaan dan penyakit jantung, bahkan meningkatkan risiko tindakan bunuh diri atau cedera diri sendiri.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter biasanya melakukan beberapa tahapan pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan fisik dan penelusuran riwayat kesehatan, tes laboratorium untuk mengevaluasi fungsi organ tubuh, evaluasi psikiatri melalui wawancara dan kuesioner, hingga penerapan kriteria DSM-5 untuk mengidentifikasi gangguan spesifik.
Penanganan gangguan mental pada lansia dilakukan melalui kombinasi terapi medis dan psikologis. Terapi medis dapat berupa pemberian obat-obatan, seperti antidepresan untuk depresi, antipsikotik untuk skizofrenia, penstabil suasana hati untuk bipolar, dan obat antikecemasan. Di sisi lain, terapi psikologis seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu lansia mengelola stres serta mengubah pola pikir negatif. Pada kasus yang lebih berat, perawatan intensif atau rawat inap mungkin diperlukan untuk mencegah risiko perilaku berbahaya.
Gangguan mental pada lansia, terutama depresi, kecemasan, skizofrenia, dan bipolar yang merupakan tantangan kesehatan serius yang membutuhkan kesadaran serta dukungan keluarga dan tenaga medis profesional.
Deteksi dini, pengobatan yang tepat, dan pendampingan emosional yang konsisten dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mental dan kualitas hidup para lansia. (wfq/fir)
Editor : M Firman Syah