Radar Surabaya – Pernikahan sejak lama dianggap sebagai pencapaian hidup dan kewajiban sosial, khususnya bagi mereka yang memasuki usia 20-an. Tidak heran, momen kumpul keluarga seperti Lebaran kerap diwarnai pertanyaan sensitif, “Kapan nikah?” atau “Sudah ada calonnya?”
Jika dahulu menikah muda dianggap sebagai simbol keberhasilan, kini generasi muda, terutama Gen Z, memiliki cara pandang berbeda. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai ajang seremonial semata, melainkan keputusan besar yang membutuhkan pertimbangan matang.
Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya anak muda yang memilih untuk menunda naik ke pelaminan. Apa yang menjadi alasannya?
Faktor Finansial
“Menikah butuh biaya, gak cuman cinta,” begitu ungkapan yang kini kerap didengar dari generasi muda. Bagi Gen Z, cinta bukan satu-satunya fondasi, sebab ada tanggung jawab besar yang harus ditopang secara ekonomi. Mereka merasa perlu memiliki kestabilan finansial lebih dulu sebelum membangun rumah tangga.
Kematangan Emosional
Gen Z sadar bahwa hubungan tidak hanya bertumpu pada materi, melainkan juga kesiapan mental dan emosional. “Labil dan emosian” menjadi alasan mereka menunda menikah. Tanpa kemampuan komunikasi sehat dan kedewasaan menghadapi konflik, pernikahan dikhawatirkan mudah rapuh meski kondisi keuangan sudah stabil.
Kehati-hatian dalam Komitmen
Banyaknya kisah hubungan yang berakhir karena perselingkuhan membuat Gen Z lebih berhati-hati. Mereka menilai komitmen saja tidak cukup jika kepercayaan sejak awal sudah rapuh. Menunda menikah bukan berarti takut berkomitmen, melainkan upaya agar tidak salah menyerahkan hati.
Fokus pada Karier dan Jati Diri
Kesempatan meniti karier, menimba ilmu, dan membangun diri dianggap lebih mendesak sebelum masuk ke fase pernikahan. Gen Z melihat bahwa setelah menikah, ada banyak hal yang mungkin harus dikorbankan, termasuk ambisi pribadi dan impian profesional.
Menunda pernikahan bagi Gen Z bukanlah bentuk penolakan terhadap komitmen, melainkan tanda kedewasaan dalam memaknai hubungan. Mereka menyadari bahwa cinta saja tidak cukup, stabilitas finansial, kematangan emosional, dan kesiapan mental sama pentingnya agar rumah tangga berjalan sehat dan berkelanjutan. (bil/fir)
Editor : M Firman Syah