Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Fenomena Performative Male di Kalangan Gen Z, Strategi Sosial di Era Digital

Muhammad Firman Syah • Rabu, 13 Agustus 2025 | 17:49 WIB
Laki-laki yang memilih menampilkan diri sebagai soft boy, menyukai musik K-pop, drama Korea, membaca buku bertema perempuan, atau mengonsumsi minuman seperti matcha yang identik dengan perempuan.
Laki-laki yang memilih menampilkan diri sebagai soft boy, menyukai musik K-pop, drama Korea, membaca buku bertema perempuan, atau mengonsumsi minuman seperti matcha yang identik dengan perempuan.

Radar Surabaya – Fenomena baru yang dikenal dengan istilah Performative Male tengah menjadi tren di kalangan laki-laki Gen Z di era digital. Di tengah kemudahan akses informasi dan maraknya media sosial, generasi ini semakin aktif membentuk dan memvalidasi identitas sosial mereka di ruang maya.

Tren Performative Male merujuk pada perilaku laki-laki yang secara sengaja menampilkan sisi kepribadian, gaya hidup, dan interaksi sosial tertentu untuk membentuk persepsi publik. Tidak jarang, perilaku ini menjadi semacam kompetisi iseng di media sosial, di mana para remaja laki-laki berlomba menunjukkan persona yang sesuai dengan selera atau ekspektasi perempuan.

gen z

Ciri khas dari tren ini antara lain terlihat dari pilihan hobi, pemikiran, sikap, bahkan selera terhadap makanan dan minuman. Contohnya, laki-laki yang memilih menampilkan diri sebagai soft boy, menyukai musik K-pop, drama Korea, membaca buku bertema perempuan, atau mengonsumsi minuman seperti matcha yang identik dengan selera perempuan. Tujuan utama dari perilaku ini umumnya untuk menarik perhatian lawan jenis atau memperoleh validasi sosial.

Menanggapi tren tersebut, Psikolog Klinis Ghina Sakinah Safari menyatakan bahwa perilaku ini tidak termasuk dalam kategori gangguan psikologis. Menurutnya, ini merupakan bagian dari kecenderungan sosial yang berkembang di tengah budaya digital.

“Hal itu dilakukan memang bertujuan untuk mendapatkan validasi atau status melalui persepsi orang lain. Secara budaya strategi seperti ini bukanlah sesuatu yang dianggap menyimpang,” ujarnya pada (6/8).

Sementara itu, Sosiolog Digital dari Universitas Airlangga, Rani Widyastuti, melihat fenomena ini sebagai bentuk respons terhadap tekanan sosial yang muncul di dunia maya. Ia menjelaskan bahwa Gen Z tumbuh di lingkungan digital yang membuat hampir seluruh aspek kehidupan terdokumentasi dan dibagikan secara terbuka.

“Gen Z tumbuh di era digital maupun sosial media saat ini membuat sebagian semua aspek kehidupan terdokumentasi dan dibagikan. Identitas pun sering kali menjadi proyek yang diseleksi, bukan sekadar refleksi diri dari yang asli,” jelasnya.

Fenomena Performative Male dinilai sebagai cerminan bagaimana teknologi dan budaya populer memengaruhi pembentukan identitas dan pola perilaku generasi muda. Dengan semakin tipisnya batas antara kehidupan pribadi dan publik di dunia digital, tren ini diperkirakan akan terus berkembang. (acl/mel/fir)

Editor : M Firman Syah
#matcha #Performative Male #K-Pop #Identitas Sosial #Digital #Gen Z #validasi