Radar Surabaya – Tren penurunan angka pernikahan di Indonesia menunjukkan perubahan signifikan dalam pola pikir generasi muda, khususnya Generasi Z. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2023, tercatat hanya 1.577.255 pernikahan, menjadikannya angka terendah dalam beberapa tahun terakhir, turun sekitar 128.000 dari tahun sebelumnya.
Salah satu penyebab utama fenomena ini adalah pergeseran prioritas hidup di kalangan Gen Z. Banyak dari mereka memilih untuk fokus pada pencapaian finansial, menikmati masa muda, dan mencintai diri sendiri sebelum mempertimbangkan pernikahan. Bagi sebagian besar Gen Z, pernikahan kini dianggap sebagai pilihan opsional, bukan keharusan.
Sikap ini berkaitan erat dengan gaya hidup modern, termasuk keputusan untuk hidup childfree, yang meskipun menimbulkan perdebatan, dianggap sebagai hak dan pilihan pribadi oleh sebagian besar anggota generasi tersebut.
Seksolog Dr. Boyke Dian Nugraha mengungkapkan bahwa pola pikir Gen Z yang cenderung bebas dan tidak terikat pada norma konservatif turut memengaruhi sikap mereka terhadap hubungan jangka panjang.
“Anak Gen Z saat ini banyak yang tidak mau menikah, alasannya mereka masih sandwich generation (memenuhi kebutuhan orang tua, diri sendiri dan juga anak-anak) hingga kebiasaan mereka hidup lebih sulit,” ujar Dr. Boyke.
Ia juga menambahkan bahwa tekanan hidup sejak usia muda, termasuk tuntutan ekonomi dan beban keluarga, menjadi faktor signifikan yang menyebabkan Gen Z menunda atau bahkan menghindari pernikahan.
Lebih lanjut, Dr. Boyke menjelaskan bahwa selain faktor ekonomi, pertimbangan lainnya termasuk kesiapan mental, kestabilan finansial, serta keinginan untuk mencapai kematangan emosional sebelum membangun rumah tangga.
“Mereka ingin mengatur emosional dengan lebih baik lagi dan semangat untuk hidup lebih baik sebelum memutuskan untuk menikah,” jelasnya.
Kesiapan mental, kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa, serta fokus pada pengembangan diri dalam bidang pekerjaan, pendidikan, dan bisnis menjadi pertimbangan utama sebelum memasuki komitmen pernikahan.
Fenomena ini menjadi refleksi perubahan nilai dalam masyarakat modern, di mana kebebasan individu dan kualitas hidup pribadi mulai mendominasi pola pikir generasi muda, termasuk dalam urusan pernikahan. (acl/mel/fir)
Baca Juga: Ngeri! Kasus PMS di Kalangan Gen Z Melonjak Drastis, Mayoritas Kena Sipilis
Editor : M Firman Syah