Radar Surabaya - Status sebagai keluarga kelas menengah bukan jaminan aman secara finansial. Justru, kelompok ini dinilai paling rentan tergelincir ke jurang kemiskinan. Fakta tersebut terungkap dalam laporan The Rise of Asia’s Middle Class yang dirilis Asian Development Bank (ADB) pada 2020.
Dalam laporan tersebut, ADB mencatat sekitar 58 persen kelas menengah di Indonesia masuk kategori rentan secara ekonomi. Mereka tidak lagi menerima bantuan sosial, namun juga belum memiliki ketahanan keuangan yang memadai.
"Satu musibah seperti PHK atau biaya rumah sakit bisa membuat keluarga menengah jatuh miskin dalam sekejap," tulis akun edukasi keuangan @pandemictalks di media sosial.
Faktor utama kerentanan ini antara lain tingginya beban cicilan, biaya hidup perkotaan yang terus meningkat, serta rendahnya literasi keuangan. Banyak keluarga kelas menengah juga hanya bergantung pada satu sumber penghasilan tanpa memiliki dana darurat atau portofolio investasi.
Agar tidak terjebak dalam ilusi kemapanan, berikut lima langkah finansial yang disarankan untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Bangun Dana Darurat
Simpan dana darurat yang cukup untuk menutupi kebutuhan hidup minimal tiga hingga enam bulan. Pisahkan dana ini dari rekening utama dan hindari menyimpannya di dompet digital yang mudah diakses.
Kurangi Utang Konsumtif
Hindari cicilan yang tidak menghasilkan nilai aset. Gunakan kartu kredit secara bijak dan prioritaskan pelunasan utang berbunga tinggi.
Diversifikasi Penghasilan
Jangan bergantung pada gaji semata. Mulailah usaha sampingan, berinvestasi, atau bangun sumber passive income seperti sewa properti atau aset digital.
Susun Anggaran dan Kontrol Gaya Hidup
Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Gunakan aplikasi pencatatan keuangan untuk memantau pengeluaran dan menjaga disiplin anggaran.
Miliki Asuransi Kesehatan dan Jiwa
Asuransi penting sebagai proteksi keuangan, terutama bagi pencari nafkah utama dalam keluarga. Hal ini mencegah dampak finansial besar saat musibah terjadi.
Menjadi kelas menengah bukan berarti kebal risiko. Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi global, keluarga kelas menengah justru berada di posisi yang rapuh. Membangun fondasi keuangan yang kuat jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan status sosial.
Sebab, ketahanan keuangan sejati tidak diukur dari seberapa besar penghasilan, tetapi dari seberapa bijak dan cermat keluarga mengelola serta melindungi aset yang dimiliki. (wid/ris/fir)
Editor : M Firman Syah