RADAR SURABAYA - Anemia defisiensi besi adalah kondisi medis yang terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi, yaitu mineral penting untuk produksi hemoglobin.
Hemoglobin bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Saat zat besi tidak mencukupi, produksi hemoglobin menurun, dan tubuh pun mengalami gejala kelelahan, pucat, dan penurunan daya tahan.
Anemia jenis ini merupakan salah satu bentuk anemia paling umum di seluruh dunia, dan bisa menyerang siapa saja, terutama mereka dengan kebutuhan zat besi yang lebih tinggi atau asupan yang tidak mencukupi.
Anemia defisiensi besi memang sering berjalan diam-diam, banyak orang tidak menyadari bahwa tubuhnya kekurangan zat besi karena gejalanya bisa tampak ringan atau disalahartikan sebagai kelelahan biasa.
Padahal, dampaknya bisa signifikan. Ketika tubuh kekurangan oksigen akibat rendahnya hemoglobin, produktivitas menurun, konsentrasi terganggu, dan daya tahan tubuh ikut melemah. Bahkan anak-anak bisa mengalami keterlambatan tumbuh kembang.
Gejala Anemia Defisiensi Besi yang Perlu Diwaspadai
Gejala anemia defisiensi besi bisa berkembang secara perlahan dan kadang tidak langsung terasa, tetapi beberapa tanda berikut patut diperhatikan:
• Mudah lelah dan lemas, bahkan setelah aktivitas ringan
• Kulit pucat dan kuku rapuh
• Sesak napas atau detak jantung cepat
• Sakit kepala dan pusing
• Tangan dan kaki dingin
• Sulit berkonsentrasi
• Nafsu makan menurun (terutama pada anak-anak)
Bahaya Anemia Defisiensi Besi Jika Tidak Diatasi
Jika anemia dibiarkan tanpa penanganan, tubuh tidak akan mendapatkan cukup oksigen untuk menjalankan fungsinya secara optimal. Beberapa risiko jangka panjang termasuk:
• Penurunan sistem imun dan mudah terserang infeksi
• Gangguan perkembangan pada anak-anak dan remaja
• Komplikasi kehamilan seperti bayi lahir prematur atau berat badan rendah
• Masalah jantung seperti pembesaran jantung dan gagal jantung
Baca Juga: Ratusan Truk Demo ODOL Masuk Kota Surabaya, Ini tuntutannya
Siapa yang Berisiko Mengalami Anemia Defisiensi Besi?
Ada beberapa kelompok populasi yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia jenis ini, antara lain:
• Wanita usia subur, terutama yang mengalami menstruasi berat
• Ibu hamil, karena kebutuhan zat besi meningkat drastis
• Anak-anak dan remaja, terutama saat masa pertumbuhan cepat
• Vegetarian atau vegan, jika tidak mengonsumsi suplemen zat besi
• Lansia, yang mungkin memiliki gangguan penyerapan nutrisi
• Penderita penyakit kronis, seperti penyakit ginjal atau gangguan pencernaan
Anemia defisiensi besi bukan sekadar rasa lelah biasa, ini adalah sinyal bahwa tubuh kekurangan bahan bakar penting untuk mengangkut oksigen.
Dengan memahami gejalanya, mengenali siapa saja yang berisiko, dan memastikan asupan zat besi tercukupi dari makanan atau suplemen, kita bisa mencegah kondisi ini memburuk. Kesehatan dimulai dari kesadaran dan kesadaran dimulai dari informasi. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari