Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dulu Menemani Keseharian Anak-Anak, Kini 8 Permainan Tradisional Ini Mulai Terlupakan

Nurista Purnamasari • Sabtu, 14 Juni 2025 | 14:37 WIB
Sebagian besar permainan zaman dulu kini telah kehilangan peminat, bahkan tak dikenal lagi oleh generasi sekarang.
Sebagian besar permainan zaman dulu kini telah kehilangan peminat, bahkan tak dikenal lagi oleh generasi sekarang.

RADAR SURABAYA - Di tengah kemajuan teknologi dan dominasi dunia digital, permainan anak-anak mengalami pergeseran yang signifikan.

Gawai dan media sosial kini menggeser permainan tradisional yang dahulu menjadi favorit di halaman rumah dan gang sempit.

Ironisnya, sebagian besar permainan zaman dulu kini telah kehilangan peminat, bahkan tak dikenal lagi oleh generasi sekarang.

Padahal, permainan ini bukan hanya soal hiburan, ia menyimpan nilai edukasi, sosial, dan budaya yang sangat berharga.

8 Permainan Zaman Dulu yang Kini Terlupakan

1. Congklak
Permainan berbasis strategi menggunakan papan berlubang dan biji kerang ini melatih logika serta hitung-hitungan. Kini, congklak lebih sering jadi pajangan rumah ketimbang sarana bermain.

2. Kelereng
Anak-anak dulu berlomba mengadu keakuratan dengan kelereng di tanah. Selain menghibur, permainan ini menumbuhkan sportivitas. Kini sulit dimainkan karena minimnya ruang terbuka.

Baca Juga: Kuota Haji Indonesia Tidak Jadi Dipangkas, PPIH Surabaya Harap Tambahan Kouta untuk Jatim

3. Gasing
Dengan beragam bentuk dan bahan, gasing dulunya dipertandingkan antarkampung. Kini, jarang ditemukan di luar pameran budaya atau museum daerah.

4. Egrang
Permainan menantang dengan berjalan di atas dua batang bambu ini melatih keseimbangan dan keberanian. Egrang kini lebih banyak muncul di festival budaya ketimbang dimainkan sehari-hari.

5. Benteng
Permainan kelompok penuh strategi ini mengajarkan kerja tim dan kecepatan. Sayangnya, benteng sudah jarang terdengar di lingkungan tempat tinggal modern.

Baca Juga: Ditinggal Ke Rumah Sakit, Rumah Warga Jalan Setro Baru Utara Surabaya Ludes Terbakar, Ini Kronologinya

6. Petak Umpet
Salah satu permainan interaktif yang melibatkan semua usia anak-anak. Kini, “permainan sosial” ini tergantikan oleh dunia maya dan gim daring.

7. Ular Naga
Permainan berkelompok dengan lagu khas ini biasa dimainkan saat istirahat sekolah. Namun, seiring bergesernya minat pada permainan berinteraksi langsung, ular naga ikut tenggelam.

8. Engklek
Mengandalkan satu kaki untuk melompati kotak-kotak bertanda kapur, engklek menjadi simbol kelincahan anak perempuan. Kini tak banyak lagi anak yang tahu bentuk petak-petaknya.

Mengapa Permainan Ini Kian Terlupakan?

• Gaya hidup modern dan urbanisasi yang minim ruang terbuka.
• Tingginya ketergantungan pada teknologi sebagai hiburan utama anak-anak.
• Kurangnya regenerasi dan pelestarian budaya lokal.
• Minimnya perhatian dari kurikulum pendidikan atau komunitas.

Permainan tradisional mencerminkan cara hidup masyarakat masa lampau, sederhana, menyatu dengan alam, dan sarat nilai sosial.

Kini, permainan-permainan tersebut tenggelam oleh gempuran teknologi, urbanisasi, dan hilangnya ruang bermain.

Namun, kita masih punya kesempatan untuk menghidupkan kembali kenangan indah ini, melalui pengenalan di sekolah, komunitas, atau sekadar bermain bersama keluarga.

Karena warisan terbaik tak selalu tertulis, kadang ia hadir dalam tawa sederhana anak-anak yang berlarian di sore hari. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#media sosial #permainan tradisional #gasing #congklak #gawai #engkle