Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ini 5 Tradisi di Surabaya yang Masih Lestari, Ada yang Masih Asli hingga Dimodernisasi

Nurista Purnamasari • Senin, 5 Mei 2025 | 17:13 WIB
Sedekah bumi merupakan tradisi yang masih banyak dilakukan masyarakat Surabaya di beberapa wilayah.
Sedekah bumi merupakan tradisi yang masih banyak dilakukan masyarakat Surabaya di beberapa wilayah.

RADAR SURABAYA - Surabaya, sebagai kota metropolitan yang terus berkembang, tetap mempertahankan sejumlah tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakatnya.

Meskipun modernisasi terus berjalan, beberapa tradisi masih lestari dan menjadi simbol kebersamaan serta kearifan lokal.

Berikut adalah beberapa tradisi Surabaya yang masih bertahan hingga kini.
1. Sedekah Bumi: Ungkapan Syukur dan Kebersamaan
Sedekah Bumi merupakan tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan keberkahan yang diberikan oleh alam.

Di beberapa wilayah Surabaya, seperti Sambikarep, masyarakat masih rutin menggelar acara ini dengan membuat tumpeng raksasa yang berisi hasil bumi.

Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang doa bersama, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

2. Gulat Okol: Ritual dan Hiburan
Gulat Okol adalah pertunjukan gulat tradisional yang dilakukan di atas tumpukan jerami.

Awalnya, tradisi ini merupakan bagian dari ritual untuk memohon hujan, tetapi kini lebih sering dijadikan sebagai hiburan dan ajang silaturahmi.

Dengan semangat pantang menyerah, para peserta beradu kekuatan dalam suasana penuh kegembiraan.

3. Larung Ari-Ari: Tradisi Sakral bagi Bayi yang Baru Lahir
Larung Ari-Ari adalah tradisi adat yang dilakukan oleh masyarakat Surabaya untuk menghormati kelahiran seorang bayi.

Ari-ari bayi (plasenta) dilarung ke sungai atau laut sebagai simbol harapan agar sang anak mendapatkan perlindungan dan keberkahan sepanjang hidupnya.

Ritual ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat yang memegang teguh adat leluhur.

4. Sepasar: Tradisi Pernikahan yang Masih Bertahan
Sepasar adalah bagian dari prosesi pernikahan di Surabaya yang mirip dengan tradisi ngunduh mantu.

Lima hari setelah menikah, mempelai wanita beserta suaminya pulang ke rumah orang tua mempelai pria untuk menjalani kehidupan baru. Tradisi ini menjadi simbol penyatuan dua keluarga dan memperkuat ikatan sosial.

5. Pitonan: Upacara Merayakan Tujuh Bulan Usia Bayi
Pitonan adalah tradisi khas Surabaya yang sarat akan makna dan nilai-nilai luhur. Upacara tradisi ini dilakukan ketika seorang bayi menginjak usia tujuh bulan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia seorang anak.

Meskipun merupakan tradisi kuno, pitonan masih terus dilestarikan oleh masyarakat Surabaya hingga saat ini.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, bentuk perayaan pitonan mengalami sedikit perubahan.

Beberapa keluarga memilih untuk mengadakan acara pitonan dengan konsep yang lebih modern, namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya.

Itulah beberapa tradisi leluhur di Surabaya yang masih lestari hingga kini. Melestarikan tradisi bukan hanya menjaga warisan masa lalu, namun prosesi-prosesi tersebut juga bisa menjadi daya tarik pariwisata. Mari kita kenali dan pelajari tradisi lokal untuk melestarikan warisan budaya. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#sedekah bumi #pitonan #surabaya #budaya lokal #Sepasar #tradisi Surabaya #gulat okol