RADAR SURABAYA - Belakang ini, terutama saat malam hari hingga menjelang sahur di bulan Ramadan di Surabaya marak perang sarung.
Bahkan, saat perang sarung mereka juga membawa senjata tajam.
Aksi mereka seperti di Rungkut Menanggal maupun di Simolawang, Nginden hingga Pandegiling Surabaya membuat warga Surabaya pun resah, meski beberapa dari mereka sudah di tangkap oleh pihak berwajib
Atas aksi perang sarung yang marak saat Ramadan di Kota Pahlawan psikolog sosial, Ananta Yudiarso angkat bicara.
Ananta mengatakan perilaku perang sarung ini merupakan tradisi yang awalnya merupakan permainan yang dilakukan pada bulan Ramadan.
Gulungan sarung yang ujungnya diikat sehingga dapat digunakan untuk menunjukan ketangkasan dengan menyerang atau bertahan dalam konteks games maupun permainan yang menyenangkan.
Namun, pada akhirnya perkembangannya sepertinya berubah tidak lagi permainan yang menyenangkan, tapi menjadi pola tawuran maupun perkelahian antar kelompok.
Dan berkembang tidak hanya sekadar gulungan sarung, tapi berisi benda mematikan mulai batu, senjata tajam, gir dan benda membahayakan lainnya.
"Perang sarung ini viral setelah muncul video perang sarung di media sosial. Salah satu yang mendorong maraknya perang sarung adalah perilaku copycat dari media sosial. Begitu viral, maka video tadi menjadi sumber referensi perilaku," kata Ananta, Kamis (6/3).
Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam teori cultivation hypotesis menjelaskan sumber perilaku masyarakat muncul dari observational learning dari media (televisi, video atau media lainnya).
Perkembangan perang sarung berbahaya karena sudah berubah dari permainan menjadi pola agresi fatalistic dari permainan menyenangkan tanpa melukai menjadi pola agresi yang melukai bahkan mematikan.
"Perkembangan masyarakat sulit membedakan games atau permainan dan realitas. Perang sarung di satu sisi adalah games atau permainan dan di sisi lain berpotensi menimbulkan realitas luka tubuh hingga kematian," ujarnya.
Terkait munculnya perang sarung saat Ramadan, menurutnya karena permainan perang sarung munculnya awal saat Ramadan.
"Jika ditilik dari pengetahuan umum permainan ini dulu sering dilakukan di bulan Ramadan bisa dipahami hanya yang harus diantisipasi adalah perkembangan dari permainan menjadi pola atau pattern agresi fatalistic menyerang diri atau kelompok lain," jelasnya.
Namun, untuk menyikapi perkembangan perang sarung ini, dia mengaku biasanya setelah viral dan menjadi tren akan menurun dan dilupakan oleh masyarakat.
Namun pola yang sama kemungkinan akan muncul begitu even terkait perang sarung datang atau bulan Ramadan.
"Perlu sosialisasi kepada masyarakat bahwa perang sarung yang fatalistic sudah melanggar hukum dan dapat ditindak hukum. Kasus yang sama dengan permainan petasan yang awalnya permainan menyenangkan menjadi membahayakan diri dan orang lain dan dapat ditindak secara hukum," ujarnya.
Ketika ditanya apakah perang sarung ini juga perilaku yang menimbulkan gangster sehingga terjadi tawuran, Ananta menjelaskan bahwa gangster merupakan penyebutan orang atau geng biasanya berulah pada kriminal yang berkelompok.
Dia juga menyebut perang sarung ini lebih mengarah ke perilaku bermain yang berkembang ke perilaku kriminal yang berakar dari perilaku tradisional permainan perang sarung.
"Bisa jadi muncul geng terlebih dahulu dan geng memanfaatkan tradisi perang sarung atau perang sarung memicu munculnya kelompok identitas dan memanfaatkan tradisi perang sarung untuk ekspresi identitas kelompok," ungkap dosen psikologi Ubaya ini.
Perang sarung juga menurut Ananta, membentuk kelompok identitas dan perang sarung menjadi perilaku yang masuk akal untuk berperang dengan Kelompok identitas lainnya.
"Hanya perilaku menjadi patologis ketika berkembang ke perang sarung yang brutal bukan lagi permainan tapi menjurus ke tindakan kriminal," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari