RADAR SURABAYA - Bagi sebagian orang, belanja adalah aktivitas yang menyenangkan, apalagi dengan kemudahan teknologi saat ini dimana hanya dengan beberapa klik saja kita sudah bisa mendapatkan barang yang diinginkan.
Namun, terkadang dalam membeli sesuatu kita tidak memikirkannya dengan matang. Alhasil, barang yang terbeli tergeletak begitu saja dan tidak digunakan karena memang sebenarnya kita tidak membutuhkan.
Jika Anda sering mengalami hal tersebut, berarti Anda mengalami suatu kondisi yang disebut sebagai impulsive buying.
Impulsive buying merupakan suatu perilaku atau kebiasaan membeli barang tanpa ada perencanaan dan proses berpikir yang panjang. Keputusan untuk melakukan impulsive buying ini biasanya dipicu oleh dorongan emosional atau bisa juga karena sesuatu yang menarik, seperti visual barang dan adanya promo yang sulit untuk dilewatkan.
Meskipun beberapa orang menganggap bahwa perilaku ini merupakan cara untuk mengapresiasi diri dan merasakan kepuasan, tetapi impulsive buying juga dapat mengakibatkan pemborosan sehingga dapat mengancam kesehatan finansial.
Faktor Penyebab Impulsive Buying
DIlansir dari berbagai sumber, impulsive buying terjadi karena beberapa penyebab, antara lain:
1. Dorongan Emosional
Adanya dorongan emosional ini menjadi penyebab utama impulsive buying yang dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam membeli barang. Ketika seseorang sedang bahagia, bosan, atau bahkan stres, reaksi emosional ini bisa memicu hasrat untuk merespons dengan berbelanja.
Reaksi emosional ini dapat terkait dengan pelepasan hormon seperti dopamine yang dapat memberikan kenikmatan. Hal ini dapat mendorong seseorang untuk merespons impulsif dengan melakukan pembelian barang.
2. Faktor Kepribadian
Faktor kepribadian dapat menjadi penyebab pembelian impulsif. Aktivitas ini cenderung terjadi pada seseorang yang memiliki gengsi dan skala FOMO yang tinggi. Demi mempertahankan citra dan popularitas, seseorang dengan sindrom belanja impulsif ini rela membeli barang apa pun untuk mencapai tujuan tersebut.
3. Adanya Promosi dan Diskon
Ketika suatu toko menawarkan diskon besar-besaran yang memiliki batas waktu tertentu, seseorang mungkin tergoda dan tergerak untuk segera melakukan transaksi pembelian. Sekalipun barang yang dibeli tidak masuk dalam perencanaan atau bahkan sebenarnya tidak dibutuhkan, adanya persepsi tentang keuntungan finansial dapat memicu respons impulsif seseorang dalam membeli barang.
4. Tata Letak Toko
Salah satu faktor yang seringkali tidak disadari oleh konsumen adalah tata letak toko. Produk tertentu yang diletakkan di tempat strategis dengan tatanan yang menarik akan merangsang respons impulsif pembeli sehingga mereka kemungkinan besar akan membeli produk tersebut sekalipun tidak dibutuhkan.
Contoh sederhana yang seringkali ditemui adalah penempatan barang-barang kecil seperti coklat dan permen yang diatur sedemikian rupa di dekat kasir. Setiap pembeli pastinya akan ke kasir untuk melakukan pembayaran dan ketika melihat produk tersebut mereka tertarik dan memutuskan untuk membelinya tanpa pertimbangan lebih lanjut.
5. Faktor Geografis dan Aspek Budaya
Masyarakat dengan budaya mandiri cenderung memiliki kebiasaan belanja impulsif dibanding dengan masyarakat yang hidup di budaya kolektif. Adapun salah satu alasan kenapa masyarakat dengan budaya mandiri ini rentan terkena impulsive buying adalah karena mereka rentan terkena stres. Sebagai coping mechanism terhadap stres mereka membeli barang-barang secara impulsif.
Cara Ampuh Mengatasi Impulsive Buying
Kebiasaan membeli barang-barang secara impulsif ini apabila dibiarkan terus meenrus akan menimbulkan dapak yang tidak baik, seperti menjadikan diri semakin boros, meningkatkan risiko kesulitan secara finansial, membuat seseorang abai dengan tanggung jawab, dan bahkan jika sudah melibatkan orang lain dapat membuat hubungan interpersonal menjadi rusak. Supaya tidak terjebak dengan impulsive buying, berikut merupakan cara-cara ampuh yang bisa dilakukan untuk mengatasi impulsive buying, dikutip dari laman ocbc.id (11/10):
1. Membedakan Antara Keinginan dan Kebutuhan
Cara pertama yang bisa dilakukan adalah Anda harus bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang hanya sebatas keinginan. Mengetahui kedua hal ini dapat membuat keuangan Anda teralokasi dengan tepat dan Anda juga terhindar dari kebiasaan membeli barang-barang yang tidak diperlukan.
2. Menyusun Skala Prioritas Sebelum Membeli Barang
Dengan mengetahui prioritas yang disesuaikan dengan kebutuhan, Anda bisa mengontrol diri untuk membeli barang-barang tertentu yang memang dibutuhkan dan menunda pembelian barang-barang yang dirasa kurang penting dan masih belum benar-benar dibutuhkan.
3. Membatasi Penggunaan Kartu Kredit dan Pembayaran Online
Cara selanjutnya yang cukup ampuh adalah membatasi penggunaan kartu kredit atau pembayaran online ketika transaksi. Pembayaran menggunakan metode tersebut membuat Anda tidak merasa esensi kehilangan uang seperti ketika menggunakan uang tunai untuk transaksi. Akibatnya, Anda menjadi lebih leluasa dan tidak lagi merasa sayang ketika harus mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang tertentu.
4. Menghindari Memasang Terlalu Banyak Aplikasi Marketplace
Memasang banyak aplikasi belanja online akan memberikan kemudahan akses untuk membeli barang-barang. Banyaknya tawaran yang menarik dari beberapa aplikasi dapat memicu pembelian yang tidak direncanakan.
5. Melindungi Diri dari Jebakan Strategi Marketing Psikologis
Anda bisa menjauhi sales yang menawarkan sesuatu kepada Anda sebelum nantinya kalimat persuasi mereka dapat membuat Anda melakukan pembelian impulsif. Selain itu, apabila terbesit keinginan untuk membeli barang di suatu tempat, segera menjauh dari tempat tersebut. (han/jay)
Editor : Jay Wijayanto