OLEH: Artika Dwi Maharani (*)
KEBUTUHAN masyarakat akan obat-obatan terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan populasi, perubahan pola penyakit, dan kesadaran akan pentingnya kesehatan.
Namun, di balik tuntutan yang terus bertambah ini, muncul tantangan besar terkait keberlanjutan sistem sediaan obat.
Mulai dari ketergantungan pada bahan baku impor hingga kendala distribusi di daerah terpencil, semuanya menyoroti pentingnya keseimbangan antara aksesibilitas bagi pasien dan ketahanan industri farmasi.
Hak pasien atas akses obat yang adil dan merata telah diatur dalam Undang-Undang Kesehatan Indonesia. Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa pemerataan ini belum sepenuhnya tercapai.
Selama pandemi COVID-19, misalnya, terjadi kelangkaan obat-obatan yang memperlihatkan kesenjangan distribusi, terutama di wilayah terpencil.
Kondisi ini tidak hanya membahayakan pasien dengan penyakit kronis tetapi juga memperburuk ketimpangan dalam layanan kesehatan.
Menurut data WHO Indonesia (2021), tantangan distribusi obat esensial masih menjadi masalah besar, terutama di wilayah yang jauh dari pusat ekonomi.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun regulasi kesehatan ada, implementasinya sering kali tidak mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Industri farmasi di Indonesia menghadapi kenyataan pahit berupa ketergantungan yang sangat besar pada bahan baku impor mencapai lebih dari 90 persen.
Ketergantungan ini menjadikan industri farmasi rentan terhadap fluktuasi pasar global, termasuk inflasi dan perubahan nilai tukar.
Selain itu, regulasi ketat terkait keamanan dan efikasi obat sering kali memperlambat pengembangan produk baru, sehingga industri farmasi domestik tertinggal dibandingkan negara lain.
Teknologi seperti bioteknologi dan farmasi digital sebenarnya menawarkan solusi. Namun, hambatan berupa investasi awal yang mahal dan keterbatasan tenaga kerja terampil menghambat adopsi teknologi di Indonesia. Hal ini membuat Indonesia sulit untuk mengejar kemajuan industri farmasi global.
Selain tantangan teknis, keberlanjutan sistem sediaan obat juga menghadapi masalah lingkungan. Limbah produksi obat, termasuk bahan beracun, dapat mencemari lingkungan, sementara ketergantungan pada energi berbasis fosil meningkatkan emisi karbon.
Eksploitasi sumber daya alam untuk bahan baku juga berpotensi merusak ekosistem, yang pada akhirnya akan menciptakan risiko kesehatan baru.
Meski penuh tantangan, peluang untuk memperbaiki sistem sediaan obat tetap terbuka. Salah satu langkah strategis adalah pengembangan bahan baku lokal yang didukung oleh pemerintah dan industri.
Dengan memanfaatkan potensi lokal, ketergantungan pada impor dapat dikurangi. Selain itu, teknologi digital, seperti sistem logistik berbasis data, dapat meningkatkan efisiensi distribusi obat.
Kerja sama antara pemerintah, industri farmasi, dan masyarakat juga sangat penting. Pemerintah perlu menciptakan regulasi yang mendukung inovasi dan kemandirian industri lokal. Sementara itu, masyarakat perlu dilibatkan melalui edukasi untuk mendukung pola konsumsi obat yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Keberlanjutan sistem sediaan obat adalah kunci bagi ketahanan sistem kesehatan di Indonesia. Tanpa sinergi yang kuat antara semua pihak terkait, akses masyarakat terhadap obat-obatan akan terus terancam.
Dengan langkah-langkah strategis yang tepat, Indonesia dapat memperbaiki sistem ini, sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi secara adil meski di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
(*) Mahasiswa Prodi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Jay Wijayanto