Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Uji Mikroplastik pada Kulit Wajah, Hasilnya Mengejutkan

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 16 November 2024 | 02:13 WIB

RADAR SURABAYA – Cemaran mikroplastik dalam tubuh dari produk sehari-hari perlu diwaspadai.

Maraknya produk yang mengandung mikroplastik dan membahayakan kesehatan manusia membuat Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) di Institut français Indonesia (IFI) Surabaya menggelar uji mikroplastik.

Uji mikroplastik dilakukan dengan mengusap kulit wajah. Dari situ terlihat setiap orang apakah mengandung mikroplastik yang telah dikonsumsi selama ini. 

Menurut Manager Edukasi Ecoton, Alaika Rahmatullah, mikroplastik telah mencapai aliran darah, partikel-partikel ini bisa tersebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan gangguan hormonal. 

“Data sains yang kami temukan harus disuarakan agar masyarakat sadar. Kami merancang berbagai aksi kreatif kombinasi seni dan sains agar informasi ini bisa diserap dengan baik oleh masyarakat, terutama generasi muda yang lebih tertarik pada visualisasi data melalui gambar dan video,” kata Alaika, Jumat (15/11).

Lebih lanjut dia menjelaskan uji mikroplastik pada kulit wajah peserta, yang menunjukkan bahwa setiap orang memiliki rata-rata 19,67 partikel mikroplastik di kulit.

Partikel ini bisa berasal dari udara yang terkontaminasi mikroplastik atau produk perawatan diri yang mengandung mikroplastik. 

Mikroplastik yang menempel di kulit berpotensi masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori, dan beredar dalam darah hingga memengaruhi keseimbangan hormon tubuh.

“Senyawa kimia berbahaya dalam mikroplastik, yang mencapai 16 ribu jenis, diketahui dapat menyebabkan inflamasi sel dan berdampak negatif pada kesehatan manusia," jelasnya.

Sementara itu dari hasil uji mikroplastik yang dilakukan dengan mengusap wajah rata-rata mengandung mikroplastik.

Direktur Ecoton, Prigi Arisandi mengaku, dilihat dari mikroskop hasilnya sudah bisa dipastikan rata-rata mengandung mikroplastik. Terlihat warna kuning bercampur putih berupa plastik dari mikroskop.

"Ada yang heran sampai takut juga kok bisa mengandung mikroplastik dan rata-rata yang diuji ternyata mengandung mikroplastik. Karena mereka mengkonsumsi makanan atau minuman dari produk yang tercampur dengan plastik," ungkap Prigi. 

Oleh karena itu, Prigi merekomendasikan kepada masyarakat yang telah menguji kandungan mikroplastik dari dalam tubuhnya untuk mengkonsumsi air sirih. 

"Kami juga merekomendasikan untuk merubah pola hidup untuk tidak lagi menggunakan plastik mulai makanan minuman sampai produk pelindung tubuh seperti sabun, pasta gigi hingga sampo. Selain itu juga minum sirih untuk mengantisipasi kandungan mikroplastik dalam tubuh," terang Prigi.

Salah satu pelajar dari Amerika, Marrio mengaku heran dengan uji yang mikroplastik di wajah.

“Ini sangat tertarik karena sebelumnya saya belum pernah cek mikroplastik di wajah, dan di negara saya Amerika belum pernah menemui penelitian cek mikroplastik di wajah," ungkap Marrio.

Selain itu, Ecoton juga berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya untuk memperkuat sosialisasi Peraturan Wali Kota Nomor 16 Tahun 2022 yang membatasi penggunaan plastik sekali pakai.

Upaya pembatasan plastik sekali pakai sangat relevan dengan kondisi Surabaya yang menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah per hari, di mana sampah plastik menjadi bagian signifikan. 

"Program makan bergizi gratis di Surabaya, misalnya, masih menggunakan kemasan plastik sekali pakai. DLH Surabaya berencana menggandeng Badan Gizi Nasional dan Dinas Pendidikan untuk mengganti kemasan makanan ini dengan wadah yang bisa digunakan berulang kali," kata Kabid Kebersihan DLH Surabaya Moch Rokim DLH Surabaya. 

Meskipun regulasi telah diterapkan, mereka mengakui masih ada tantangan dalam melakukan sosialisasi di pasar tradisional.

Kegiatan ini diharapkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih memahami dampak plastik bagi kesehatan dan lingkungan. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#bahan berbahaya #ecoton #mikroplastik #kulit wajah