RADAR SURABAYA - Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengenalkan teknologi alat bantu mobilitas bagi penyandang tunanetra berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hal ini dilakukan untuk memajukan pendidikan inklusif dan memberdayakan penyandang tunanetra.
Para siswa dan guru di SMPLB-A YPAB Surabaya diberikan pengenalan dan pelatihan mengenai penggunaan alat bantu bernama Neutrack AI Glove.
Sebuah sarung tangan pintar yang dirancang untuk membantu tunanetra dalam bernavigasi dan mengenali benda-benda di sekitarnya.
Pelatihan ini meliputi demonstrasi cara kerja alat, uji coba penggunaan di lapangan, serta diskusi untuk mendapatkan umpan balik dari para pengguna.
Beberapa guru menyampaikan bahwa alat ini lebih modern dan praktis dibandingkan alat bantu yang ada sebelumnya, seperti tongkat atau topi.
"Kami ingin membawa teknologi yang lebih inklusif dan bisa diakses langsung oleh mereka yang membutuhkan, salah satunya melalui kegiatan ini,” kata Dosen Departemen Teknik Informatika ITS, Dini Adni Navastara, Jumat (13/9).
Dini menyambut baik masukan-masukan tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya akan berupaya melakukan perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.
“Kami berharap kerja sama ini bisa berkelanjutan, sehingga produk ini dapat benar-benar bermanfaat bagi mereka,” tambah Dini.
Dalam kegiatan ini, tim ITS juga mendapatkan wawasan tentang kondisi nyata dan kebutuhan para siswa tunanetra.
Hal ini dianggap penting oleh tim untuk mengembangkan produk yang lebih sesuai dan mudah diadopsi oleh pengguna akhir (end user).
“Dengan kegiatan seperti ini, kami bisa lebih memahami apa yang dibutuhkan oleh pengguna dan bagaimana teknologi bisa diintegrasikan ke dalam kehidupan mereka,” jelasya.
Tim ITS juga telah membawa produk ini ke kompetisi internasional, salah satunya Google Solution Challenge 2024, dan dalam waktu dekat akan berlaga dalam ajang Gemastik 2024.
Inovasi berupa sarung tangan ini merupakan yang kali pertama mereka lihat.
“Produk ini lebih simple dan cocok untuk siswa-siswa kami. Setelah uji coba, terlihat bahwa siswa lebih leluasa menggunakan alat ini,” ujar Kepala SMPLB-A YPAB, Eko Purwanto.
Para siswa juga merasakan langsung teknologi AI yang sering hanya dikenal dalam konteks teori atau melalui media.
Dengan uji coba langsung, para siswa tidak hanya dapat mengenali teknologi ini, tetapi juga mengidentifikasi manfaat dan kendala yang mungkin muncul dalam penggunaannya sehari-hari.
“Kami sangat senang bisa mengenal teknologi ini lebih jauh dan berharap siswa kami bisa lebih mandiri,” ujar Tutus Setiawan, seorang guru pendamping. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari